WhatsApp-Image-2026-01-31-at-09.40.50.jpeg

KPSHK Gelar ToT Kurikulum Pencegahan Karhutla dan Penjagaan Hutan

Upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut Kahayan Hilir diperkuat melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia. KPSHK menggelar Pelatihan untuk Pelatih (Training of Trainers/ToT) Kurikulum Pencegahan Karhutla dan Penjagaan Hutan pada 20–21 Januari 2026.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Inisiatif Kahayan Hilir (IKH) yang dijalankan KPSHK bersama Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) di Kecamatan Kahayan Hilir, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. ToT ini dirancang untuk menyiapkan para pelatih yang nantinya akan melatih kembali Tim Penjaga Hutan (TPH) di Mantaren I, Gohong, Kalawa, dan Buntoi melalui Pusat Informasi dan Sekolah Lapang (PISL) Perhutanan Sosial. “TPH adalah garda terdepan perlindungan hutan. Mereka bekerja di kondisi berisiko tinggi, jadi perlu dibekali pengetahuan teknis, keselamatan kerja, sekaligus keterampilan komunikasi,” ujar Project Manager KPSHK, Aftrinal S. Lubis, saat membuka pelatihan.

Permainan Edu Games dan peraturannya, 21 Januari 2026 (Foto: KPSHK)

Selama dua hari, peserta tidak hanya menerima materi di kelas, tetapi juga terlibat dalam diskusi kelompok, studi kasus, simulasi, hingga Edu Games yang dirancang sebagai media pembelajaran di desa. Pendekatan ini sengaja dipilih agar metode pelatihan lebih mudah dipahami oleh calon peserta di lapangan yang mayoritas adalah pembelajar dewasa. “Orang dewasa lebih cepat memahami lewat pengalaman langsung. Karena itu kami gunakan pendekatan praktik, visual, dan studi kasus nyata,” jelas Prof. Dr. Efi Yuliati Yovi dari IPB yang menjadi tenaga ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dalam kegiatan ini.

Materi pelatihan mencakup regulasi pencegahan karhutla, biodiversitas hutan gambut, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), manajemen risiko, penggunaan alat pelindung diri (APD), deteksi dini kebakaran, praktik pencegahan, serta komunikasi kampanye. Pada hari kedua, fokus bergeser ke P3K dasar, manajemen konflik dengan masyarakat, penanganan konflik level 1–3, dan perencanaan jalur patroli aman.

Aspek konflik sosial menjadi perhatian penting. Tim Penjaga Hutan (TPH) kerap berinteraksi dengan masyarakat yang membuka lahan dengan cara bakar karena keterbatasan ekonomi. “Pendekatan komunikasi sangat menentukan. Kalau salah, bisa memicu konflik. Kalau tepat, masyarakat bisa jadi mitra menjaga hutan,” ungkap salah satu peserta.

Efektivitas pelatihan diukur melalui pre-test dan post-test. Hasilnya menunjukkan peningkatan pengetahuan sebesar 6 persen, dari nilai rata-rata 92 persen menjadi 98 persen. Hasil ini menjadi indikator bahwa kurikulum dan metode pelatihan cukup efektif untuk direplikasi di tingkat desa.

Selain pembelajaran utama, peserta juga memberikan sejumlah masukan untuk penguatan di lapangan, seperti pengembangan alternatif buka lahan tanpa bakar melalui mulsa organik dan kompos, penyusunan kode darurat peluit, penguatan SOP patroli, kelengkapan APD, pelatihan teknik investigasi konflik, serta pengetahuan pertolongan pertama termasuk penanganan gigitan ular.

Kurikulum ini akan diterapkan secara bertahap dalam pelatihan Tim Penjaga Hutan (TPH). “Menjaga gambut bukan pekerjaan sesaat. Kuncinya ada pada kapasitas orang-orang yang setiap hari berada di lapangan,” tutup Bayu Saputro, GIS & Database Manager KPSHK.

Pencegahan karhutla dimulai bukan saat api muncul, tetapi dari ruang belajar tempat pengetahuan disiapkan sebelum bencana terjadi.

Penulis : Alma

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *