20251202_113150-scaled-1.jpg

Potensi & Tantangan Peternakan Pulang Pisau

Kabupaten Pulang Pisau, khususnya wilayah Kecamatan Kahayan Hilir, kini tengah memantapkan posisinya sebagai salah satu lumbung ternak yang menjanjikan di Kalimantan Tengah. Melalui wawancara terbaru dengan Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Kabupaten Pulang Pisau pada awal Desember 2025, terungkap bahwa daerah ini memiliki modal alam dan infrastruktur yang kuat, meski masih harus berhadapan dengan efisiensi produksi di sektor tertentu.

Salah satu sorotan utama dalam industri peternakan lokal adalah populasi sapi Bali yang menjadi primadona masyarakat. Saat ini, tercatat ada sekitar 10.000 ekor sapi Bali yang dipelihara oleh para peternak di Kahayan Hilir. Namun, angka ini sebenarnya masih jauh di bawah kapasitas maksimal wilayah tersebut.

Berdasarkan analisis ketersediaan hijauan pakan, lahan di wilayah ini mampu mendukung populasi hingga 62.000 ekor sapi. Hal ini menunjukkan adanya peluang pengembangan populasi yang sangat besar, mengingat ketersediaan pakan alami yang melimpah belum dimanfaatkan secara optimal.

Pemerintah daerah telah berhasil mendorong modernisasi peternakan melalui teknologi reproduksi. Teknologi inseminasi buatan (IB) atau kawin suntik kini sudah umum diterapkan dan dipahami oleh masyarakat. Untuk mendukung keberhasilan program ini, pemerintah juga menjalankan distribusi N2 cair (nitrogen cair) di berbagai kecamatan untuk menjaga kualitas semen beku.

Meskipun layanan ini sudah menjangkau sebagian besar wilayah, tantangan geografis masih menjadi kendala di daerah terpencil seperti wilayah Sebangau. Akses layanan yang jauh membuat adopsi teknologi di daerah tersebut belum seefektif di pusat layanan lainnya.

Beralih ke sektor unggas, ayam buras dan bebek menunjukkan potensi pasar yang menarik dengan harga telur asin mencapai Rp4.000 hingga Rp5.000 per butir. Sayangnya, sektor ini sedang mengalami kontraksi. Dari 10 kelompok peternak bebek yang sebelumnya dibantu melalui program food estate, kini hanya tersisa 2 kelompok yang bertahan.

Kendala utamanya adalah ketergantungan pada pakan pabrikan yang harganya sangat mahal. Ironisnya, meski bahan baku lokal seperti sagu dan dedak tersedia melimpah, biaya pengolahannya secara mandiri justru lebih mahal dan tidak efisien dibandingkan membeli pakan pabrik. Hal ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah untuk mencari formula pakan alternatif yang lebih ekonomis bagi peternak lokal.

Untuk menjaga kesehatan ternak, Kabupaten Pulang Pisau mengandalkan 7 dokter hewan yang tersebar di 4 Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan). Di Kecamatan Kahayan Hilir sendiri, terdapat 2 dokter hewan aktif yang bertugas memantau kesehatan populasi ternak.

Ke depan, pemerintah daerah juga berencana memperketat pengawasan lalu lintas ternak melalui pembangunan pos cek antar pulau. Proyek yang akan dibangun di atas lahan seluas 1,7 hektar hibah dari pemerintah provinsi ini akan dilengkapi dengan kandang penampungan untuk memastikan setiap ternak yang masuk atau keluar dalam kondisi sehat dan sesuai prosedur.

Secara spesifik, setiap desa di Kahayan Hilir memiliki spesialisasi komoditasnya sendiri:

  • Desa Mentaren I: Fokus pada pengembangan ternak babi.
  • Desa Gohong: Menjadi sentra pengembangan sapi dan kambing.
  • Desa Buntoi: Memiliki potensi campuran antara ternak besar (sapi/kambing) serta unggas seperti ayam dan itik.

Dengan ketersediaan lahan yang luas dan dukungan teknologi yang mulai mapan, Kabupaten Pulang Pisau memiliki fondasi kuat untuk menjadi pemimpin sektor peternakan, asalkan tantangan biaya pakan unggas dapat segera teratasi.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *