Kalimantan Tengah, dengan kekayaan hutan tropis dan bentang alam gambutnya, berada di garis depan krisis iklim global. Dampak pemanasan tercepat dalam sejarah ini tidak hanya berupa kenaikan suhu rata-rata tahunan, tetapi juga perubahan pola curah hujan ekstrem yang memicu ketidakpastian ketersediaan air, banjir, dan kekeringan. Dampak yang paling merusak dari ketidakpastian iklim ini adalah Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang terjadi hampir setiap tahun, yang berdampak pada kerusakan ekosistem vital dan mengancam kesehatan masyarakat (Marlina dan Kamaliah 2021).
Di tengah situasi ini, Adaptasi Perubahan Iklim (API) menjadi keharusan, bukan lagi pilihan. Berbeda dengan mitigasi yang fokus mengurangi emisi karbon, API adalah upaya penyesuaian untuk meningkatkan daya tahan masyarakat dan sistem alam terhadap dampak krisis iklim yang sudah terjadi. Bagi masyarakat Kahayan Hilir, Kabupaten Pulang Pisau, adaptasi harus dilakukan secara terpadu untuk melindungi dua aset krusial, yaitu ekosistem gambut dan mata pencaharian komunitas.
Kawasan lahan gambut di Kahayan Hilir memiliki peran yang sangat penting. Ekosistem ini tidak hanya menyimpan 20 kali lipat karbon lebih banyak dari hutan tropis biasa, menjadikannya penting untuk mitigasi. Kondisi lahan di Kahayan Hilir juga berfungsi sebagai regulator hidrologi alami yang menahan air saat hujan dan melembabkan saat kemarau.
Tim Patroli Hutan dan Tim Patroli Kebakaran Insiatif Kahayan Hilir melakukan pemadaman kebakaran, Gohong September 2024. Sumber foto: KPSHK.
Kerusakan gambut akibat kebakaran berulang meningkatkan kerentanannya terhadap kekeringan yang diperburuk iklim. Untuk mengatasi ini, inisiatif Pengelolaan Terpadu Ekosistem Hutan Gambut (PTEHG) sejak 2024 disebut Insiatif Kahayan Hilir (IKH) di empat Hutan Desa, yaitu Gohong, Kalawa, Mantaren I, dan Buntoi menjadi model adaptasi kunci. Model IKH menerapkan tiga strategi adaptif utama:
- Pengendalian Hidrologi (Rewetting): Pembangunan sekat kanal berfungsi untuk mempertahankan tinggi muka air tanah gambut. Tindakan fisik ini secara langsung mengurangi sensitivitas ekosistem terhadap kekeringan, sehingga meminimalkan risiko kebakaran bawah permukaan yang sulit dikendalikan.
- Restorasi Cerdas Iklim: Restorasi lahan pasca-terbakar difokuskan pada penanaman jenis pohon asli dan tangguh seperti Balangeran (Shorea balangeran), Jelutung (Dyera lowii), dan Pulai (Alstonia spatulata). Balangeran, khususnya, terbukti dapat beradaptasi pada lahan gambut pasca-terbakar dan mampu bertahan pada kondisi tergenang saat musim hujan. Pemilihan spesies adaptif ini menjamin regenerasi ekosistem yang lebih tahan banting terhadap fluktuasi hidrologi di masa depan.
- Manajemen Risiko Komunitas: Komunitas setempat, melalui Tim Penanggulangan Karhutla (TPK) dan Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD), secara rutin melakukan patroli terpadu dan monitoring. Ini merupakan adaptasi kelembagaan yang krusial untuk mencegah bencana dan melindungi cadangan karbon yang tersimpan di gambut.

Kelompok Usaha Perhutanan Anyaman Rotan Sosial Inisiatif Kahayan Hilir, Gohong, Oktober 2025. Sumber foto: KPSHK.
Dampak perubahan iklim tidak hanya terasa di hutan, tetapi juga di meja makan. Perubahan pola curah hujan mengancam ketahanan pangan, menuntut sektor pertanian untuk mengadopsi Pertanian Cerdas Iklim / Climate Smart Agriculture (CSA) (Juni dan Sarvina 2024).
Sementara itu, komunitas pesisir, seperti nelayan, menghadapi peningkatan risiko laut dan kesulitan memprediksi lokasi tangkapan akibat cuaca yang tidak menentu. Untuk mengurangi ketergantungan pada sumber daya alam yang rentan cuaca, diversifikasi mata pencaharian menjadi strategi adaptasi sosial-ekonomi yang vital.

Kelompok Usaha Perhutanan Sosial Ikan Patin kolam bioflok Inisiatif Kahayan Hilir, Buntoi, Oktober 2025. Sumber foto: KPSHK.
Salah satu contoh adaptasi yang menjanjikan adalah pengembangan Budidaya Ikan Intensif di lahan sempit, seperti budidaya lele menggunakan bak terpal (bioflok). Model ini dapat mengurangi risiko yang ditimbulkan oleh cuaca ekstrem di laut, meningkatkan efisiensi pakan hingga 25%, dan mendorong pengolahan produk bernilai tambah (ikan beku) yang tahan lama dan memiliki harga jual tiga kali lipat.

Kelompok Usaha Perhutanan Sosial Madu Kelulut Inisiatif Kahayan Hilir, Buntoi, Oktober 2025. Sumber foto: KPSHK.
Keberhasilan adaptasi di Kahayan Hilir sangat bergantung pada resiliensi rumah tangga, yang ditingkatkan melalui penguatan kelembagaan lokal seperti LPHD, diversifikasi pendapatan ke sektor non-farm atau off-farm, serta peningkatan kapasitas komunitas secara kolektif (Muzdalifah dan Hanafie 2023).
Pentingnya adaptasi perubahan iklim di Kahayan Hilir terletak pada upaya terpadunya dalam melindungi ekosistem gambut yang rentan sekaligus memperkuat resiliensi sosial-ekonomi. Melalui sinergi antara intervensi fisik (sekat kanal), ekologis (restorasi lahan), dan ekonomi (diversifikasi livelihood), Kahayan Hilir menunjukkan bahwa masyarakat lokal, bukan hanya sebagai korban, tetapi adalah inovator kunci dalam menciptakan pembangunan yang berkelanjutan dan tangguh iklim.
Penulis: Hurin & Alma
Editor: JW & Kiss
Central Kalimantan, with its rich tropical forests and peatland landscapes, is on the front lines of the global climate crisis. The impact of this fastest-ever warming is not only the rise in average annual temperatures but also changes in extreme rainfall patterns that trigger uncertainty about water availability, flooding, and drought. The most devastating impact of this climate uncertainty is the almost annual forest and land fires (Karhutla), which damage vital ecosystems and threaten public health (Marlina and Kamaliah 2021).
Amidst this situation, Climate Change Adaptation (CADA) is a necessity, not an option. Unlike mitigation, which focuses on reducing carbon emissions, CADA is an adjustment effort to increase the resilience of communities and natural systems to the impacts of the climate crisis that has already occurred. For the people of Kahayan Hilir, Pulang Pisau Regency, adaptation must be carried out in an integrated manner to protect two crucial assets: the peatland ecosystem and community livelihoods.
The peatland area in Kahayan Hilir plays a crucial role. This ecosystem not only stores 20 times more carbon than a typical tropical forest, making it crucial for mitigation. The land conditions in Kahayan Hilir also function as a natural hydrological regulator, retaining water during the rainy season and rehydrating it during the dry season.
The Forest Patrol Team and the Kahyan Hilir Initiative Fire Patrol Team extinguished the fire, Gohong September 2024. Photo source: KPSHK.
Peatland degradation due to repeated fires increases its vulnerability to climate-exacerbated drought. To address this, the Integrated Peat Forest Ecosystem Management (PTEHG) initiative, known as the Kahayan Hilir Initiative (IKH) since 2024, in four Village Forests: Gohong, Kalawa, Mantaren I, and Buntoi, serves as a key adaptation model. The IKH model implements three main adaptive strategies:
1. Hydrological Control (Rewetting): The construction of canal blocks maintains the peatland water table. This physical measure directly reduces the ecosystem’s sensitivity to drought, thereby minimizing the risk of difficult-to-control subsurface fires.
2. Climate-Smart Restoration: Post-burn land restoration focuses on planting native and resilient tree species such as Balangeran (Shorea balangeran), Jelutung (Dyera lowii), and Pulai (Alstonia spatulata). Balangeran, in particular, has proven to be adaptable to post-burn peatlands and can survive inundated conditions during the rainy season. The selection of these adaptive species ensures the regeneration of an ecosystem that is more resilient to future hydrological fluctuations.
3. Community Risk Management: Local communities, through the Forest and Land Fire Management Team (TPK) and the Village Forest Management Institution (LPHD), routinely conduct integrated patrols and monitoring. This is a crucial institutional adaptation to prevent disasters and protect the carbon reserves stored in the peat.

Kahayan Hilir Social Rattan Weaving Forestry Business Group Initiative, Gohong, October 2025. Photo source: KPSHK.
The impacts of climate change are not only felt in the forests, but also at the dinner table. Changing rainfall patterns threaten food security, requiring the agricultural sector to adopt Climate Smart Agriculture (CSA) (Juni and Sarvina 2024).
Meanwhile, coastal communities, such as fishermen, face increased maritime risks and difficulty predicting fishing locations due to unpredictable weather. To reduce dependence on weather-vulnerable natural resources, livelihood diversification is a vital socio-economic adaptation strategy.

Social Forestry Business Group of Patin Fish biofloc pond Kahayan Hilir Initiative, Buntoi, October 2025. Photo source: KPSHK.
One promising example of adaptation is the development of intensive fish farming in limited areas, such as catfish farming using tarpaulin tanks (biofloc). This model can reduce the risks posed by extreme weather at sea, increase feed efficiency by up to 25%, and encourage the processing of value-added products (frozen fish) that have a long shelf life and triple the selling price.

Kelulut Honey Social Forestry Business Group, Kahayan Hilir Initiative, Buntoi, October 2025. Photo source: KPSHK.
The success of adaptation in Kahayan Hilir depends heavily on household resilience, which is enhanced through strengthening local institutions such as the Fisheries and Fisheries Management Unit (LPHD), diversifying income into non-farm or off-farm sectors, and building collective community capacity (Muzdalifah and Hanafie 2023).
The importance of climate change adaptation in Kahayan Hilir lies in its integrated efforts to protect vulnerable peat ecosystems while strengthening socio-economic resilience. Through the synergy between physical (canal blocking), ecological (land restoration), and economic (livelihood diversification) interventions, Kahayan Hilir demonstrates that local communities are not merely victims, but key innovators in creating sustainable and climate-resilient development.
Author: Hurin & Alma
Editor: JW & Kiss
Add a Comment