Merawat Hutan Kalimantan Menguatkan Ekonomi Kahayan Hilir
Caring for Kalimantan Forests Strengthens the Economy of Kahayan Hilir

Masyarakat Kahayan Hilir memulai hari mereka seiring rekahan matahari pagi menyapa lahan gambut ruang hidup. Harapan untuk tetap bertahan menjaga hutan hidup dan membangun kesejahteraan terus mereka gulirkan setiap hari. Kegiatan ekonomi masyarakat gambut Kahayan Hilir beberapa bulan belakangan menapaki babak baru dengan adanya potensi usaha.

 

Potensi pengembangan ekonomi dari hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang berkelanjutan dan menjadi ekonomi alternatif masyarakat desa di sekitar hutan perlu mendapatkan dukungan. Untuk itu, KPSHK bersama para pemangku kepentingan, pemerintah, dan kelompok masyarakat di Pulang Pisau perlu mengangkat model bisnis dari unit Perhutanan Sosial.

 

Jambun, pengelola KUPS Perikanan Ikan Patin. Sumber foto: KPSHK.

 

Kelompok masyarakat yang mengelola suatu usaha ekonomi atau yang biasa dikenal sebagai Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) memainkan peran penting dalam mendorong perekonomian lokal melalui pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi serta memastikan keberlanjutan usaha, dibutuhkan sebuah model bisnis yang dapat dijadikan acuan bagi KUPS. Model bisnis ini terutama fokus pada tiga komoditas utama KUPS, yaitu rotan, madu, dan perikanan.

 

Penguatan model bisnis ini memerlukan langkah sistematis dalam mengembangkan KUPS, terutama yang masih pada tahap rintisan. Pada kenyataannya, KUPS memiliki banyak kendala untuk memulai dan bertahan dengan usahanya sendiri. Untuk itu, upaya solutif yang ditawarkan KPSHK adalah dengan membentuk wadah dalam format inkubator bisnis.

 

Inkubator bisnis merupakan salah satu bagian penting dari infrastruktur penunjang KUPS. Inkubator bisnis berorientasi pada pemberian dukungan dalam memulai bisnis melalui konsultasi, penyediaan ruang, penawaran infrastruktur administrasi, serta layanan lainnya.

 

Inkubator ini lahir untuk menjawab kebutuhan pelaku usaha masyarakat dengan menyediakan ruang belajar untuk bertumbuh dan berkembang, serta membangun jaringan pasar lebih luas agar produk masyarakat bisa terserap.

 

“Potensi besar di masyarakat membutuhkan dukungan yang terstruktur. Kami ingin usaha ini tidak hanya bertahan, tapi benar-benar naik kelas dan mandiri,” ungkap Dewi Mutiara, Manager Divisi Pengembangan Pembiayaan KPSHK.

 

Salah satu usaha yang dikembangkan dalam inkubator ini adalah budidaya ikan patin berbasis teknologi bioflok. Kolam-kolam budidaya itu menjadi simbol semangat baru bagi kelompok usaha pengelola ikan.

 

Jambun, begitu ia dipanggil, sebagai pengelola budidaya ikan, mengenang masa ketika usaha patin hanya menjadi rencana tanpa arah yang jelas. Kini, ia merasakan perbedaannya. “Dulu kami ingin budidaya, tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Setelah ada pendampingan dengan model bisnis ini, saya merasa lebih percaya diri. Saya ingin usaha ini bisa memberikan masa depan lebih baik untuk masyarakat,” ungkapnya.

 

Geliat ekonomi masyarakat Kahayan Hilir juga tumbuh dari kotak-kotak kayu tempat lebah kelulut bekerja. Melyasie, salah satu perempuan pelaku usaha budidaya madu kelulut, dulu memanen madu dengan cara sederhana dan menjualnya dalam wadah seadanya. Kini, dengan bantuan peralatan panen, pelatihan, serta akses ke gerai pemasaran Black Danum Café, ia mulai memahami bagaimana kualitas dan kemasan memberi nilai lebih. “Kalau dulu hanya untuk kebutuhan harian, sekarang kami mulai bisa memikirkan usaha. Saya jadi bangga, madu kelulut kami bisa dipajang dan dibeli banyak orang,” ucapnya, tersipu namun matanya penuh percaya diri baru.

 

Black Danum Café yang terletak di Mantaren I bukan sekadar ruang untuk menikmati hangatnya aroma kopi serta berbagai sajian lainnya. Black Danum juga menjadi ruang berkumpulnya berbagai produk dari kelompok usaha perhutanan sosial. Di sela seruputan kopi, bergulir pula cerita perjuangan masyarakat menjaga hutan dan mengembangkan ekonomi. Setiap produk yang terpajang bukan sekadar barang dagangan, melainkan bukti bahwa usaha desa memiliki daya saing jika diberi kesempatan. Rotan yang dulu hanya dijual sebagai bahan mentah kini hadir sebagai tas dan gelang yang dirancang dengan sentuhan kreatif untuk menjangkau pasar modern.

 

Lebih dari sekadar menyediakan fasilitas, Inkubator Bisnis KPSHK juga menumbuhkan pola berpikir baru tentang usaha-usaha yang berkelanjutan, berbasis pengetahuan, dan memiliki perencanaan yang jelas. “Kami tidak ingin masyarakat menanggung risiko sendiri. Kita rancang usaha bersama, mulai dari analisis kelayakan, produksi, hingga pemasaran. Modal awal pun kami hitung sebagai investasi tumbuh bersama, bukan beban,” tegas Dewi.

 

Seiring waktu berjalan, hasil pendampingan mulai tampak. Jambun terlihat lebih mantap memimpin kelompoknya, Melyasie semakin percaya diri menceritakan madu kelulut kebanggaannya, dan para perajin rotan mulai melihat peluang yang selama ini terasa jauh dari jangkauan. Mereka kini menyadari bahwa menjaga alam bukan hanya pilihan moral, tetapi juga strategi ekonomi yang cerdas.

Atas tanah gambut yang rapuh, tumbuh usaha-usaha baru yang tangguh. Inkubator Bisnis KPSHK bukan hanya hadir sebagai program ekonomi, tetapi juga penyemai perubahan sosial: memberikan kesempatan, membangun kapasitas, dan menumbuhkan kewirausahaan yang berakar kuat pada kelestarian lingkungan. Kahayan Hilir, masa depan ekonomi hijau Indonesia sedang bertunas perlahan tapi pasti dari tangan-tangan yang mencintai hutan sebagai bagian dari kehidupan mereka.

Penulis: Alma
Editor: JW & Kiss

The people of Kahayan Hilir begin their day as the morning sun touches the peatland, their living space. They continue to cultivate the hope of preserving the forest and building prosperity daily. The economic activities of the Kahayan Hilir peatland communities have entered a new phase in recent months, with the emergence of business opportunities.

 

The potential for sustainable economic development from non-timber forest products (NTFPs) and becoming an alternative source of income for villagers surrounding the forest requires support. To this end, the Ministry of Forestry (KPSHK), together with stakeholders, the government, and community groups in Pulang Pisau, needs to develop a business model for the Social Forestry unit.

 

Jambun, manager of the Patin Fish Fishery Business Group (KUPS). Photo source: KPSHK.

 

Community groups that manage economic enterprises, commonly known as Social Forestry Business Groups (KUPS), play a crucial role in boosting the local economy through sustainable natural resource management. To increase productivity and efficiency and ensure business sustainability, a business model is needed that can serve as a reference for the KUPS. This business model primarily focuses on the three main KUPS commodities: rattan, honey, and fisheries.

 

Strengthening this business model requires systematic steps in developing KUPS, especially those still in the startup stage. In reality, KUPS face many obstacles in starting and sustaining their own businesses. Therefore, the solution offered by the Fisheries and Marine Resources Development Agency (KPSHK) is to establish a business incubator.

 

Business incubators are a crucial part of the KUPS’s supporting infrastructure. Business incubators focus on providing support in starting businesses through consultations, providing space, offering administrative infrastructure, and other services.

 

This incubator was created to address the needs of community entrepreneurs by providing a learning space for growth and development, as well as building a broader market network so that community products can be absorbed.

 

“The enormous potential in the community requires structured support. We want these businesses not only to survive, but to truly advance and become independent,” said Dewi Mutiara, Manager of the Financing Development Division at KPSHK.

 

One of the businesses developed within this incubator is catfish cultivation based on biofloc technology. These cultivation ponds symbolize a renewed enthusiasm for fish farming business groups.

 

Jambun, as he is known, as a fish farmer, recalls the days when the patin business was just a plan without a clear direction. Now, he feels the difference. “We used to want to cultivate it, but we didn’t know where to start. After receiving assistance with this business model, I feel more confident. I want this business to provide a better future for the community,” he said.

 

The economic activity of the Kahayan Hilir community also stems from the wooden boxes where the stingless bees work. Melyasie, one of the women involved in the stingless bee cultivation business, used to harvest honey using simple methods and sell it in makeshift containers. Now, with the help of harvesting equipment, training, and access to the Black Danum Café marketing outlet, she has begun to understand how quality and packaging add value. “Previously, it was just for daily needs, but now we can start thinking about business. I’m proud that our stingless bee honey can be displayed and purchased by many people,” she said, blushing but her eyes filled with newfound confidence.

 

Black Danum Café, located in Mantaren I, is more than just a place to enjoy the warm aroma of coffee and a variety of other treats. Black Danum also serves as a gathering place for various products from social forestry business groups. Over sips of coffee, stories of the community’s struggle to protect the forest and develop the economy unfold. Each product on display is more than just merchandise, but proof that village businesses can be competitive if given the opportunity. Rattan, once sold only as a raw material, is now available in bags and bracelets, designed with creative touches to reach the modern market.

 

More than just providing facilities, the KPSHK Business Incubator also fosters a new mindset about sustainable, knowledge-based businesses with clear planning. “We don’t want the community to bear the risk alone. We design the business together, from feasibility analysis to production and marketing. We even consider the initial capital an investment to grow together, not a burden,” Dewi emphasized.

 

Over time, the results of the mentoring began to appear. Jambun appears more confident leading his group, Melyasie is growing in confidence in sharing her prized stingless bee honey, and the rattan artisans are beginning to see opportunities that previously seemed out of reach. They now realize that protecting nature is not only a moral choice but also a smart economic strategy.

 

Resilient new businesses are growing on fragile peat soil. The KPSHK Business Incubator is not only an economic program, but also a sower of social change: providing opportunities, building capacity, and fostering entrepreneurship rooted in environmental sustainability. In Kahayan Hilir, the future of Indonesia’s green economy is sprouting slowly but surely from the hands of those who cherish the forest as part of their lives.

Author: Alma
Editor: JW & Kiss

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *