Halaman depan Kantor Kedamangan Kahayan Hilir, Kelurahan Bereng, Kabupaten Pulang Pisau, kini menjadi ruang yang menyatukan nilai budaya dan kesadaran ekologis. “Monumen Peringatan Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan Pulang Pisau 2025” berdiri tegak sebagai simbol harapan agar bencana kabut asap tidak lagi menyelimuti langit Kalimantan Tengah. Hutan, tanah, dan manusia menyatu sebagai satu napas kehidupan yang mesti dijaga bersama.
Monumen hasil kolaborasi KPSHK dan lembaga adat ini berdiri megah, menjulang dengan Burung Tingang di puncaknya yang menatap ke timur ke arah matahari terbit, arah datangnya harapan. “Monumen ini bukan hanya simbol fisik,” ujar Rokhmond Onasis, PIC Monumen KPSHK. “Kesadaran menjaga hutan berarti menjaga kehidupan. Panyambung Aseng Penyambung Nafas adalah filosofi yang mengikat kita agar tidak lagi bermain dengan api.”
Rokhmond menjelaskan, monumen ini berangkat dari refleksi panjang atas pengalaman Pulang Pisau menghadapi kebakaran lahan. “Kami menggali akar budaya Dayak Ngaju, memaknai falsafah Huma Betang yang menuntun hidup bersama secara harmonis. Setiap ukiran dan warna di monumen ini mengandung doa agar tanah tetap subur, udara bersih, dan api tidak lagi menjadi berita,” ujarnya sambil menunjuk motif Bajakah dan Kalukuh pada permukaan monumen.

Monumen Peringatan Pencegahan Karhutla di Kantor Kedamangan Kahayan Hilir. Sumber Foto: KPSHK.
Motif Bajakah Kalalawit dan Kalukuh Bajei melambangkan kesuburan serta kehidupan yang tumbuh ketika alam dirawat dengan kasih. Warna-warna pada monumen juga menyimpan pesan: merah melambangkan keberanian, kuning menggambarkan kebahagiaan, hijau menandakan harapan, hitam melukiskan kekuatan, dan putih menyimbolkan kesucian. Kelima warna itu menyatu sebagai tekad kolektif mencegah karhutla dan menjaga keseimbangan alam.
Monumen ini menjadi penanda kesadaran baru masyarakat Kahayan Hilir. “Bukan program semata,” ucap Idon, Damang Kahayan Hilir. “Peringatan ini mengingatkan kita semua bahwa kebakaran hutan bukan musibah alam, melainkan akibat perbuatan manusia. Jika manusia sadar, hutan akan pulih. Monumen ini harus dijaga bersama sebagai pengingat agar kejadian serupa tidak terulang.”
Nilai-nilai adat menjadi dasar kuat dalam menjaga lingkungan. “Adat Dayak bukan sekadar warisan budaya, tetapi sistem hukum ekologis. Petunjuk Lewu aturan adat mengajarkan manusia agar tidak serakah terhadap alam. Pelanggaran terhadapnya selalu berujung bencana,” tegas Idon.
Suara senada datang dari lapangan. “Monumen ini seperti suara hati kami,” kata Lampang, anggota Tim Penjaga Hutan Gohong. “Setiap kali melihatnya, kami diingatkan agar terus menjaga hutan dari ancaman karhutla. Api bisa datang kapan saja jika kita lengah. Monumen ini menjadi pengingat bahwa karhutla tidak boleh terjadi lagi di hutan ini.”
Momen peletakan pondasi pertama monumen, Ahmad Jayadikarta, Wakil Bupati Pulang Pisau, turut hadir dan memberikan apresiasi. “KPSHK memiliki cara yang mudah dipahami masyarakat dalam memperingati pencegahan karhutla dan kami sangat mengapresiasi itu. Semoga dengan adanya monumen ini, kesadaran menjaga hutan semakin kuat. Monumen peringatan pencegahan karhutla menjadi pengingat bagi kita semua agar tidak lagi terjadi kebakaran hutan dan lahan di wilayah Pulang Pisau,” ujarnya di hadapan masyarakat dan tokoh adat yang hadir.
Empat sisi tungku pondasi monumen menampilkan logo KPSHK, Kadamangan Kahayan Hilir, Kabupaten Pulang Pisau, serta Dewan Adat Daerah (DAD). Keempatnya merepresentasikan kolaborasi antara lembaga adat, masyarakat, dan pemerintah. “Pencegahan kebakaran bukan tugas satu pihak. Semua harus berjalan bersama sesuai semangat Huma Betang yang sesungguhnya,” jelas Rokhmond.
Burung Tingang di puncak monumen menjadi simbol penjaga pesan luhur. Dalam keyakinan Dayak Ngaju, Tingang merupakan utusan Ranying Hatalla Langit-Tuhan Yang Maha Esa. Sosok ini melambangkan kehidupan dan keseimbangan antara langit serta bumi, manusia serta alam. Kepala Tingang yang menghadap ke timur menggambarkan semangat menyongsong masa depan tanpa kabut asap, kehidupan yang bermartabat Belom Bahadat.
Monumen Peringatan Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan Pulang Pisau 2025 menjadi penanda tekad kolektif. Hutan bukan sekadar ruang hidup, melainkan sumber napas bersama. Setiap api yang padam adalah kehidupan yang diselamatkan.
“Jaga hutan, jaga kehidupan,” tutup Idon sambil menatap monumen yang berdiri kokoh di bawah cahaya sore.
“Tanah ini memberi napas. Setiap pohon adalah bagian dari kehidupan kita,” ujarnya pelan.
Penulis: Alma
The front yard of the Kahayan Hilir Kedamangan Office in Bereng Village, Pulang Pisau Regency, has now become a space that unites cultural values ​​and ecological awareness. The “Pulang Pisau 2025 Forest and Land Fire Prevention Monument” stands tall as a symbol of hope that the haze disaster will no longer blanket the skies of Central Kalimantan. Forest, land, and people are united as one breath of life that must be protected together.
This monument, a collaboration between the Forest and Land Fire Prevention and Management Agency (KPSHK) and traditional institutions, stands majestically, towering with the Tingang Bird at its peak, gazing eastward toward the rising sun, the direction of hope. “This monument is not just a physical symbol,” said Rokhmond Onasis, PIC of the KPSHK Monument. “Awareness of protecting the forest means protecting life. Panyambung Aseng Penyambung Nafas (The Connection of Breath) is a philosophy that binds us to stop playing with fire.”
Rokhmond explained that this monument stems from a long reflection on Pulang Pisau’s experience dealing with land fires. “We are exploring the roots of Ngaju Dayak culture, embracing the Huma Betang philosophy, which guides harmonious coexistence. Every carving and color on this monument embodies a prayer for fertile soil, clean air, and a cease of fire,” he said, pointing to the Bajakah and Kalukuh motifs on the monument’s surface.

The Forest and Land Fire Prevention Memorial Monument at the Kahayan Hilir Kedamangan Office. Photo Source: KPSHK.
The Bajakah Kalalawit and Kalukuh Bajei motifs symbolize fertility and the life that grows when nature is cared for with love. The colors on the monument also convey a message: red symbolizes courage, yellow represents happiness, green signifies hope, black represents strength, and white symbolizes purity. These five colors combine to convey a collective determination to prevent forest and land fires and maintain the balance of nature.
This monument marks a new awareness among the people of Kahayan Hilir. “It’s not just a program,” said Idon, the Damang of Kahayan Hilir. “This commemoration reminds us all that forest fires are not natural disasters, but rather the result of human activity. If people are aware, the forest will recover. This monument must be collectively preserved as a reminder to prevent similar incidents from recurring.”
Customary values ​​are a strong foundation for environmental protection. “Dayak customs are not just a cultural heritage, but a system of ecological law. The Lewu (traditional) guidelines teach people not to be greedy towards nature. Violation of these rules always leads to disaster,” Idon emphasized.
A similar voice came from the field. “This monument is like our conscience,” said Lampang, a member of the Gohong Forest Guard Team. “Every time we see it, we are reminded to continue protecting the forest from the threat of forest and land fires. Fire can strike at any time if we are careless. This monument serves as a reminder that forest and land fires must never happen again in this forest.”
At the foundation laying ceremony for the monument, Ahmad Jayadikarta, Deputy Regent of Pulang Pisau, was present and expressed his appreciation. “KPSHK has an easily understood way for the public to commemorate forest and land fire prevention, and we greatly appreciate that. Hopefully, with this monument, awareness of forest protection will grow. The monument commemorating forest and land fire prevention serves as a reminder for all of us to prevent further forest and land fires in the Pulang Pisau area,” he said to the community and traditional leaders present.
The four sides of the monument’s foundation stone feature the logos of KPSHK, Kadamangan Kahayan Hilir, Pulang Pisau Regency, and the Regional Customary Council (DAD). All four represent the collaboration between traditional institutions, the community, and the government. “Fire prevention is not a one-person task. Everyone must work together, in accordance with the true spirit of Huma Betang,” explained Rokhmond.
The Tingang bird at the top of the monument symbolizes the guardian of a noble message. In the Ngaju Dayak faith, the Tingang is a messenger of Ranying Hatalla Langit—the One Almighty God. This figure symbolizes life and the balance between heaven and earth, humans and nature. The Tingang’s head facing east represents the spirit of welcoming a future without haze, a dignified life in Belom Bahadat.
The Pulang Pisau 2025 Forest and Land Fire Prevention Monument symbolizes collective resolve. Forests are not just living spaces, but a shared source of breath. Every fire extinguished is a life saved.
“Protect the forest, protect life,” concluded Idon, gazing at the monument standing firmly in the afternoon light.
“This land gives us breath. Every tree is part of our lives,” he said quietly.
Author: Alma
Add a Comment