2d95f636137f00f172881e7f46759011.jpg

Blue Carbon dan Restorasi Mangrove: Potensi Besar, Tantangan Nyata, dan Harapan Ekonomi Lokal

Ekosistem Mangrove: Penjaga Iklim dan Sumber Penghidupan

Mangrove merupakan salah satu ekosistem yang memiliki kepadatan karbon tertinggi dan termasuk ke dalam salah satu blue carbon ecosystem. Ekosistem mangrove memainkan peranan penting dalam siklus karbon global dalam mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) dan sekaligus mengurangi dampak terhadap perubahan iklim. Indonesia sebagai negara dengan luas ekosistem mangrove cukup luas, memegang peranan yang sangat penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim berbasis eksistem pesisir.

Blue carbon ini merujuk pada karbon yang tersimpan pada ekosistem pesisir dan laut, seperti mangrove, padang lamun, dan rawan asin. Indonesia menyimpan lebih banyak blue carbon di ekosistem mangrovenya dibandingkan negara lain. Mangrove mampu menyimpan empat sampai lima hektar per hektar lebih banyak dibandingkan dengan hutan dataran tropis. Berdasarkan data BRGM (Badan Restorasi Gambut dan Mangrove) Tahun 2021 tentang Peta Mangrove Nasional 2021 bahwa Indonesia diperkirakan memiliki 3.36 juta hektar mangrove yang mampu menyimpan lebih dari 3 miliar ton CO2 ekuivalen. Kondisi tersebut menjadi modal penting dalam mencapai target penurunan emisi yang telah ditentukan secara Nasional dalam NDC (National Determined Contribution).

Selain berperan dalam mitigasi iklim, ekosistem blue carbon seperti mangrove juga menyediakan berbagai manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir. Ekoistem mangrove mampu mendukung terhadap mata pencahariaan masyarakat pesisir melalui: budidaya perikanan, ekowisata hingga potensi perdagangan karbon. Oleh karena itu, konservasi dan pengelolaan mangrove yang berkelanjutan tidak hanya membantu memenuhi komitmen iklim nasional, tertapi juga berkontribusi terhadap kesejahteraan ekonomi lokal.

Restorasi Mangrove: Antara Upaya dan Harapan

Pemerintah Indonesia menargetkan restorasi ekosistem mangrove diberbagai daerah melalui pendekatan partisifatif dan pemberdayaan masyarakat lokal. Penerapan pendekatan ini bukan hanya untuk memulihkan ekosistem mangrove, tetapi juga untuk menciptakan lapangan pekerjaan dan membangun ketahanan pesisir. Beberapa contoh sukses dari kegiatan restorasi ekosistem mangrove telah dilakukan di daerah pesisir Demak, Jawa Tengah, dimana masyarakat bersama LSM berhasil melaksanakan kegiatan restorasi eksosistem mangrove dan sekaligus berhasil mengembangkan budidaya kepiting bakau dan ekowisata. Sementara itu, di Kalimantan Barat kelompok perhutanan sosial berkolaborasi bersama pihak swasta dan telah berhasil menjual kredit karbon berbasis mangrove ke pasar secara sukarela. Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa restorasi ekosistem mangrove dapat mendorong manfaat ekologi sekaligus ekonomi secara bersamaan.

Tantangan Nyata: Konversi Lahan dan Tekanan Ekonomi

Restorasi eksositem mangrove mengalami tantangan nyata terutama terhadap konvesi lahan. Sudah sejak lama ekosistem mangrove kerap dikorbankan untuk pembangunan dan kebutuhan ekonomi, seperti tambak budidaya, industri maupun permukiman. Konversi ekosistem mangrove ini menimbulkan dampak serius terhadap: kerusakan fungsi ekologis, kehilangan stok blue carbon dan kerentanan sosial-ekonomi. Studi kasus dibeberapa daerah di Indonesia menunjukkan bahwa konflik kepentingan antara konservasi dan eksploitasi ekonomi masih menjadi tantangan besar dalam pengelolaan mangrove secara berkelanjutan.

Mangrove dan Harapan Ekonomi Lokal

Dibalik adanya tantang dan ancaman, sesungguhnya ekosistem menjadi harapan ekonomi lokal dan menjadi sumber pengghidupan berkelanjutan. Berikut ini beberapa bukti konktrit bahwa ekosistem mangrove dapat menjadi harapan ekonomi lokal: (1) Ekowisata berbasis mangrove sudah berkembang di berbagai wilayah, mulai dari Bali, Banyuwangi dan Tarakan; (2) Budidaya kepiting bakau dan madu mangrove menjadi sumber pemasukan bagi masyarakat sekitar pesisir; (3) Perdagangan karbon; dan  (4) Perhutanan sosial menjadi dasar legal bagi masyarakat untuk mengelola dan memulihkan kawasan ekosistem mangrove.

Dengan adanya dudukangan kebijakan, pendanaan dan kolaborasi antar multipihak, ekosistem mangrove dapat menjadi pilar terhadap pembangunan pesisir yang ramah terhadap iklim, tetapi juga insklusif secara sosial dan ekonomi.

Penulis: Salim

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *