Menghadapi musim kemarau dan meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), Tim Darurat Karhutla (TDK) telah melakukan berbagai persiapan dan mulai mengintensifkan patroli pencegahan. Langkah ini dilakukan berdasarkan peta kerawanan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menunjukkan bahwa hampir seluruh wilayah Pulang Pisau telah masuk zona merah atau kategori “Sangat Mudah Terbakar.”

“Wilayah kita sudah masuk zona merah. Ini artinya semua pihak harus siaga dan bergerak cepat. Kami tidak menunggu api muncul baru bertindak,” tegas Aftrinal Syaaf Lubis, Program Manager KPSHK.
Sebagai tindak lanjut, TDK mengaktifkan sejumlah agenda penting sesuai rencana kerja tahun 2025. Fokus utama saat ini adalah patroli dan sosialisasi di wilayah-wilayah yang dianggap rawan, khususnya lahan gambut yang mulai mengering akibat musim kemarau.
“Hari ini tim sudah patroli di wilayah Buntoi, dan besok giliran tim dari Gohong yang akan bergerak. Kami sudah koordinasi dengan semua pihak terkait dan akan terus laporkan progresnya,” jelas Anang, Ketua TDK. Langkah TDK dalam melakukan patroli tidak berdiri sendiri. Kegiatan ini didasarkan pada integrasi data: peta kerawanan BMKG, pemetaan kerentanan wilayah, dan alarm kebakaran dari sistem NASA FIRMS. Data ini digunakan untuk memastikan patroli lebih tepat sasaran dan efisien.

“Efektivitas patroli bisa kita lihat dari jumlah hotspot. Kalau titik apinya rendah, artinya kegiatan patroli cukup berhasil mencegah kebakaran. Jadi, indikator keberhasilannya ya jumlah hotspot yang sedikit,” ungkap Alfian, staf GIS KPSHK.
TDK sebelumnya telah menyusun strategi penanggulangan Karhutla melalui diskusi kelompok pada Mei lalu. Strategi tersebut mencakup kampanye penyadartahuan, pemasangan spanduk larangan membakar, simulasi pemadaman, pelaporan bulanan, serta patroli rutin di wilayah rawan.
Kini, seluruh strategi tersebut mulai diaktifkan kembali secara intensif seiring meningkatnya ancaman kebakaran di Pulang Pisau. Fokus wilayah utama adalah desa-desa yang berada di atas lahan gambut, seperti Gohong, Buntoi, Kalawa, dan Mantaren I.
Peta BMKG menunjukkan kondisi rawan yang serius. Sebagian besar wilayah Pulang Pisau berada di zona merah dengan tingkat kemudahan terbakar yang tinggi. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembakaran lahan dalam bentuk apapun, terutama untuk membuka lahan pertanian.
“Kami mengajak seluruh pihak, terutama masyarakat di desa-desa rawan, untuk tetap waspada, mendukung patroli, dan segera melaporkan jika melihat tanda-tanda kebakaran,” tambah Aftrinal.
Dengan kesiapsiagaan dan kolaborasi semua pihak, diharapkan ancaman kebakaran di musim kemarau kali ini bisa diminimalkan. Patroli dan sosialisasi menjadi langkah awal yang penting untuk menjaga hutan dan lahan tetap aman dari bencana.
Tetap waspada. Cegah sebelum terlambat.
Penulis: Alma
Facing the dry season and the increasing potential for forest and land fires (Karhutla), the Karhutla Emergency Team (TDK) has made various preparations and begun intensifying preventive patrols. This step is based on a hazard map from the Meteorology, Climatology, and Geophysics Agency (BMKG), which shows that almost the entire Pulang Pisau area has entered the red zone, or the “Highly Flammable” category.

BMKG data on the flammability of the topsoil in Kalimantan. Source: BMKG.
“Our region has entered the red zone. This means all parties must be alert and act quickly. We are not waiting for fires to appear before acting,” emphasized Aftrinal Syaaf Lubis, Program Manager of the KPSHK.
As a follow-up, the TDK has activated several important agendas according to its 2025 work plan. The main focus currently is patrols and outreach in areas considered vulnerable, particularly peatlands that are beginning to dry out due to the dry season.
“Today, the team patrolled the Buntoi area, and tomorrow it will be the team from Gohong’s turn to move. We have coordinated with all relevant parties and will continue to report on their progress,” explained Anang, Head of the TDK. The TDK’s patrols do not occur in isolation. These activities are based on integrated data: BMKG hazard maps, regional vulnerability mapping, and fire alarms from the NASA FIRMS system. This data is used to ensure more targeted and efficient patrols.

NASA Firms data for Central Kalimantan Hotspots or Firespots. Source: NASA Firms.
“We can measure the effectiveness of patrols from the number of hotspots. If the number of hotspots is low, it means the patrols have been quite successful in preventing fires. So, the indicator of success is the low number of hotspots,” said Alfian, a GIS staff member at the KPSHK.
The TDK had previously developed a forest and land fire mitigation strategy through group discussions last May. This strategy included awareness campaigns, displaying no-burn banners, firefighting simulations, monthly reporting, and routine patrols in vulnerable areas.
Now, all of these strategies are being intensively reactivated as the fire threat in Pulang Pisau increases. The main focus areas are villages located on peatlands, such as Gohong, Buntoi, Kalawa, and Mantaren I.
The BMKG map shows a serious risk situation. Most of Pulang Pisau is in the red zone with a high level of flammability. Therefore, the public is advised to refrain from burning land in any form, especially for agricultural purposes.
“We urge all parties, especially communities in vulnerable villages, to remain vigilant, support patrols, and immediately report any signs of fire,” added Aftrinal.
With preparedness and collaboration from all parties, it is hoped that the threat of fires during this dry season can be minimized. Patrols and outreach are important first steps in keeping forests and land safe from disasters.
Stay vigilant. Prevent before it’s too late.
Author: Alma

Add a Comment