“Kalawa itu artinya sinar matahari. Tempat kami ini selalu lebih dulu menyapa pagi dibanding desa seberang. Itulah sebabnya disebut Kalawa,” tutur Alius, Mantir Adat Kalawa, dengan tatapan tenang menelusuri pinggir hutan galam yang bergoyang diterpa angin.
Kalawa bukan sekadar nama. Ia adalah simbol arah, terang, dan asal-muasal. Di balik sebuah nama sederhana itu, tersimpan warisan sejarah, budaya, dan ekologi yang menyatu dalam hidup masyarakat Dayak Ngaju.

Dulu, kampung ini dikenal sebagai Lewu Dandang Taheta Runduk Ulek Lawang Petahu yang dimaknai Kampung yang menunduk hormat menghadap gerbang pengetahuan, berseberangan langsung dengan Lewu Tumbang Hantasan Raja Rundung Ulek Labuhan Banama yang artinya Kampung di muara yang menjadi tempat pertemuan pemimpin, menghadap pelabuhan keramat, yang kini menjadi Desa Pulang Pisau. Keduanya ibarat dua sisi telapak tangan tak terpisahkan, saling terkait oleh garis darah dan sejarah keluarga. Hingga tahun 1958, nama Kalawa ditetapkan secara resmi, menandai desa yang “lebih dahulu menatap matahari pagi.”
Namun, nama bukanlah satu-satunya warisan. Di Kalawa, nilai gotong royong yang dahulu menyatu dalam napas kehidupan kini mulai tergerus. Dahulu, masyarakat dengan sukarela bahu-membahu membangun lewu (kampung). Kini, kehadiran uang perlahan menggantikan semangat kebersamaan. Perubahan itu terasa, meskipun tidak seluruhnya buruk, namun menjadi pengingat bahwa jati diri bisa memudar bila tidak dijaga.
Hutan Desa Kalawa bukan sekadar hamparan pohon dan tanah. Di sanalah tempat Huma Patahu, rumah penjaga kampung berdiri. Keberadaannya masih diyakini sebagai pelindung spiritual kampung, tempat nilai adat berakar.
Hutan desa Kalawa berdiri di atas tanah gambut yang dalamnya bisa mencapai enam meter. Di beberapa titik, gambut ini bercampur tanah liat dan pasir. Ada area kebun karet, sengon, dan juga hutan galam yang semuanya menjadi penyangga hidup dan warisan leluhur.
Menjaga hutan artinya menjaga keberlanjutan hidup. Bagi masyarakat Kalawa, hutan bukan sekadar “sumber daya alam,” melainkan bagian dari identitas. Di Sungai Bangkalong, jukung banama (Perahu suci yang diberi nama dan dihormati) masih teronggok setia perahu leluhur yang menjadi saksi kehidupan para pendahulu. Bukan benda biasa, jukung ini adalah pengingat bahwa siapa pun yang hidup hari ini, sedang berjalan di atas pijakan sejarah.
Kini, Kalawa telah berkembang menjadi kelurahan sejak 2006. Dengan empat RT dan masyarakat yang makin beragam, tantangannya pun bertambah. Perubahan sosial, ekonomi, dan budaya terus menguji ketahanan nilai-nilai adat.
Namun, selama sinar matahari masih terbit dari timur, selama nama Kalawa masih diucap dengan kebanggaan, harapan akan tetap menyala.
“Menjaga hutan itu bukan soal proyek, tapi soal menepati janji pada leluhur dan anak cucu,” ujar sang mantir sambil tersenyum.
Kalawa mengajarkan bahwa terang bukan sekadar cahaya, tapi juga kesadaran. Kesadaran akan pentingnya merawat tanah, menjaga adat, dan hidup harmonis dengan alam. Hutan desa Kalawa adalah cahaya yang harus terus dijaga, agar generasi mendatang tetap dapat menatap pagi dengan penuh makna seperti nama mereka, Kalawa.
Penulis: Alma Tiara
Editor: JW

Add a Comment