Pulang Pisau, Kalimantan Tengah — Dahulu, Hutan Desa Kalawa di Kecamatan Kahayan Hilir hanyalah hamparan hijau yang tampak damai dari kejauhan. Dengan luas mencapai 4.230 hektar, hutan ini menjadi bagian penting dari bentang ekosistem gambut Kalimantan Tengah. Namun, kedamaiannya semu. Tanpa pemantauan aktif, tak ada yang benar-benar tahu apakah hutan itu aman, atau tengah menghadapi ancaman diam-diam.
“Dulu, kami tidak tahu persis apa yang terjadi di dalam hutan. Kami hanya bisa berharap hutan itu baik-baik saja,” ujar Suhartono, warga Kalawa sekaligus anggota Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Kalawa.
Kondisi ini berubah sejak tahun 2022, saat masyarakat mulai dilibatkan secara aktif dalam pelatihan dan pembentukan Tim Patroli Hutan (TPH). Program ini menjadi bagian dari inisiatif Pengelolaan Terpadu Ekosistem Hutan Gambut yang menyasar perlindungan kawasan dengan pendekatan partisipatif. Perubahan itu mencapai puncaknya pada Februari 2025, saat tim patroli melaksanakan kegiatan intensif selama hampir tiga minggu.
6.850 Langkah yang Mengubah Segalanya
Sejak tanggal 9 hingga 27 Februari 2025, sepuluh orang anggota TPH Kalawa mencatatkan total jarak patroli sepanjang 6.850 langkah atau sekitar 6,8 kilometer melintasi jalur Sungai Bangkalung 1 dan Sungai Buluh 2. Setiap hari mereka keluar masuk kawasan hutan, merekam koordinat, memeriksa titik pos kerja, dan mendokumentasikan segala temuan.
“Ini bukan sekadar jalan kaki. Kami harus membaca jejak satwa, mengecek kondisi pos, dan mencatat semua hal kecil yang bisa menunjukkan perubahan di dalam hutan,” ujar Hikia JS, Ketua Tim Patroli Hutan Kalawa.
Hikia dan timnya berangkat dari kantor LPHD setiap pagi pukul 07.30 WIB, menempuh perjalanan perahu sejauh 11 kilometer sebelum tiba di titik awal patroli. Dengan menggunakan peta, aplikasi Avenza, dan perangkat GPS, mereka mencatat setiap simpul jalur. Jalur yang mereka tempuh tidak acak—semua telah direncanakan berdasarkan peta dan prioritas titik rawan.
Temuan Lapangan: Dari Jejak Rusa hingga Sumur Bor
Selama patroli, banyak temuan penting tercatat. Mereka menemukan jejak rusa besar di hari keempat tanda bahwa ekosistem masih aktif. Di hari ketujuh, terdengar suara ranting patah dari arah semak-semak, mengindikasikan kehadiran satwa besar.


“Kami lihat jejak besar, jarak antar kuku sekitar delapan sentimeter. Kemungkinan besar itu rusa,” kata Yalie, anggota tim yang bertugas mendokumentasikan temuan satwa.
Selain itu, tim juga mengecek kondisi infrastruktur hutan: menara pantau yang masih berdiri kokoh, pos kerja yang utuh, gazebo di ujung tanjakan, serta sumur bor yang masih dapat digunakan. Semua diverifikasi dan dilaporkan secara harian.
Data Digital, Tindakan Nyata
Setiap koordinat, catatan, dan foto disimpan dalam bentuk digital. Laporan mereka mencatat jalur Sungai Bangkalung 1 telah dilewati enam kali, sementara Sungai Buluh 2 satu kali. Titik-titik seperti -2⁰41.608’S dan 114⁰11.303’E kini menjadi bagian dari sistem pemantauan terpadu.

“Dulu kami tidak tahu harus mulai dari mana. Sekarang, kami punya data, punya rencana, dan tahu titik mana yang rawan terbakar atau rusak,” ungkap Rusmidi, salah satu anggota tim yang bertugas mencatat tally sheet dan kondisi pohon.
Menuju Kalawa yang Lebih Tangguh
Kini, rencana tindak lanjut telah disusun. Jalur patroli akan disempurnakan, titik-titik rawan api akan terus dipantau, dan dokumentasi akan diperkuat. Tim juga akan meningkatkan kualitas laporan untuk menjadi acuan dalam perencanaan pengelolaan hutan ke depan.
Jejak yang mereka tapaki bukan lagi sekadar langkah kaki. Ia adalah bentuk tanggung jawab, semangat perlindungan, dan bukti bahwa hutan bisa dijaga jika masyarakat diberi ruang untuk berperan.
“Kalawa bukan lagi hutan yang diam. Ia hidup, dan kami siap menjaganya,” tutup Hikia JS, menggenggam map berisi peta, foto, dan catatan yang menjadi saksi perubahan besar dari dalam hutan.
Penulis: Alma
Add a Comment