Palangka Raya, 20 Februari 2025 – Tiga hari yang penuh semangat dan kebersamaan akhirnya mencapai puncaknya. Festival Rakyat Penjaga Hutan yang berlangsung sejak 18 Februari kini resmi ditutup, meninggalkan jejak kenangan yang mendalam bagi para peserta. Aula Hotel Luwansa dipenuhi tawa dan tepuk tangan saat sebuah ikrar dilantunkan bersama, mengikat janji untuk terus menjaga hutan Kahayan Hilir tetap lestari.
Melihat Masa Depan, Menggambar Harapan
Hari terakhir festival ini bukan sekadar perpisahan, melainkan sebuah perayaan mimpi. Deni dari INSPIRIT membuka sesi dengan penuh antusiasme. “Selama dua hari ini, kita sudah luar biasa. Sekarang, mari kita gambar mimpi kita!” serunya, mengajak peserta membayangkan Kahayan Hilir di tahun 2045.

Setiap kelompok duduk melingkar, crayon dan spidol di tangan, menciptakan gambaran impian mereka. Ada yang menggambar hutan rimbun dengan fauna yang kembali bersemi, ada yang melukis rumah betang berdiri kokoh, dan ada pula yang membayangkan sungai Kahayan yang jernih, bebas dari pencemaran. Seorang peserta dari Desa Buntoi berujar, “Semoga di masa depan, desa kami bisa memiliki hutan yang lebat dan menjadi percontohan bagi desa lain.”
Pasar Impian Tukar Gagasan, Tebar Inovasi
Salah satu sesi yang paling dinanti adalah “Pasar Papan Impian dan Inovasi.” Setiap kelompok menjadi kios, di mana dua orang bertindak sebagai pedagang yang menjelaskan gambar impian mereka, sementara yang lain berperan sebagai pembeli. Deni kembali memberikan arahan, “Ini seperti pasar! Silakan berkunjung, tanyakan apa saja, dan pastikan semua kebagian mendengar ide-ide cemerlang.”
Dari kios ke kios, gagasan mengalir deras. Kios 6 menampilkan rencana wisata hutan berbasis konservasi, sementara Kios 8 mengkampanyekan gerakan menjaga sungai dari pencemaran. Kios 10 bahkan menggagas berdirinya Universitas Hutan! “Kita ingin ada jurusan khusus tentang hutan, air, dan udara, agar anak-anak bisa belajar dari alam dan untuk alam,” ujar seorang peserta dengan mata berbinar.
Momen Sakral: Ikrar Daya Lestari Kahayan Hilir
Tiba di penghujung acara, suasana berubah lebih khidmat. Dengan penuh semangat, peserta membacakan Ikrar Daya Lestari Kahayan Hilir, meneguhkan komitmen mereka untuk menjaga hutan dari kebakaran, illegal logging, dan kerusakan lingkungan. “Kami, penjaga hutan desa, berjanji akan melestarikan adat dan kearifan lokal, serta mengembangkan usaha berbasis hutan yang berkelanjutan,” demikian salah satu butir ikrar yang disambut tepuk tangan.

Seorang peserta dari Desa Mantaren 1, Welianto, menyampaikan rasa bangganya. “Semoga pelajaran dari festival ini berguna bagi kami di tim patroli maupun untuk desa kami.” Sementara itu, Yunita dari KPSHK mengumumkan penghargaan bagi desa-desa peserta, sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi mereka dalam menjaga hutan.
Penutupan: Perjalanan Baru Dimulai
Andriani, perwakilan dari Sekda Pulang Pisau, secara resmi menutup festival ini. “Saya bangga dengan semangat bapak-ibu semua. Festival ini bukan hanya perayaan, tetapi juga pengingat bahwa menjaga hutan adalah tugas kita bersama.”
Saat peserta bersiap pulang, ada satu hal yang mereka bawa selain kenangan: tekad yang semakin kuat untuk menjadi penjaga hutan yang sejati. Seperti pepatah Dayak yang mereka yakini, “Hutan bukan warisan nenek moyang, melainkan titipan untuk anak cucu.” Dengan semangat itu, Festival Rakyat Penjaga Hutan bukanlah akhir ini adalah awal dari perjalanan panjang menjaga hutan tetap hijau.
Penulis: Alma

Add a Comment