DSC07224.jpg

Mangaruhi, Memburu Ikan di Saat Sungai Surut

Saat sungai surut dan keruh, menjadi berkah tersendiri bagi masyarakat Dayak. Kondisi sungai tersebut dapat dimanfaatkan untuk mangaruhi, tradisi leluhur masyarakat Dayak mencari ikan. Mangaruhi dilakukan dengan turun ke air, dan memburu ikan-ikan yang ada menggunakan tangguk atau tangan kosong. Ketika air surut, masyarakat berinisiatif memasang jaring di ujung-ujung sungai, sepanjang kurang lebih 50 meter.  

Tradisi mangaruhi masih terjaga di Kelurahan Mantaren I, Kecamatan Kahayan Hilir, Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah. Seperti beberapa waktu lalu, saat Sungai Mantaren surut, sekolompok ibu-ibu, pria dewasa, dan remaja, turun ke sungai memburu ikan. Sementara warga yang tidak ikut, memberi semangat sambil bersorak di tepi sungai. “Itu ada gelembung air, coba cari ke sana,” teriak seorang ibu sambi menunjuk ke arah munculnya gelembung.

Setiap mengangkat tangguk, mereka berharap ada ikan yang tertangkap. Sati (47), salah satu warga Mantaren I ikut memburu ikan di Sungai Mantaren I. Dengan sigap, Sati menyorongkan tangguk atau biasa dikenal dengan soak—alat penangkap ikan khas masyarkat Dayak yang terbuat dari anyaman bambu—menyusuri sungai surut dan berlumpur.

Dua jam mangaruhi, Sati berhasil mengumpulkan 4 kg ikan dan udang. Ada ikan haruan, baung, dan papuyu di dalam butah—tas khas Dayak yang digunakan untuk menaruh hasil tangkapan, milik Sati. Tradisi Mangaruhi ini bukan hanya soal mencari ikan, juga menjadi ajang menjaga hubungan masyarakat dengan alam dan sungai sebagai sumber kehidupan. Lihat sungai kami masih banyak ikan dan udangnya, itu yang kami syukuri,” ujar Sati.

Mencari ikan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga bagi sebagian masyarakat tidak hanya dilakukan saat air surut. Di saat air sungai sedang tinggi, biaasanya mencari ikan dilakukan dengan memancing atau menjala. Habitat ikan yang masih terjaga di sungai tak lepas dari kondisi hutan yang masih terjaga. Sati berharap program Pengelolaan Terpadu Ekosistem Hutan Gambut (PTEHG) yang diinisiasi K.P.SHK dan dikelola bersama masyarakat, mampu mengembalikan kawasan hutan yang hilang.

Penulis: Aris

Editor: JW & Kiss

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *