Di bawah langit Palangka Raya yang cerah, Festival Rakyat Penjaga Hutan kembali menggema. Hari kedua festival ini bukan sekadar perayaan, tetapi panggung bagi desa-desa untuk menuturkan kisah mereka masa lalu yang penuh kearifan, masa kini yang sarat tantangan, dan masa depan yang penuh harapan.

Rabu pagi (19/02), di Hotel Luwansa, para peserta memulai hari dengan menari Manasai. Gerakan tangan yang berputar menggambarkan lingkaran kehidupan, sebuah simbol bahwa masa depan hutan dan desa ada dalam genggaman mereka. Tak lama berselang, mereka larut dalam diskusi yang disiarkan langsung oleh RRI Palangka Raya: “Pengelolaan Hutan Gambut Berkelanjutan: Solusi untuk Menekan Karhutla di Kalteng.” Seperti air yang mengalir, diskusi ini membawa pemahaman baru tentang peran hutan dalam kehidupan mereka.
Setelahnya, desa-desa berkumpul dalam lingkaran-lingkaran kecil, membentuk alur cerita yang akan mereka tampilkan. Seperti helai-helai rotan yang dianyam menjadi tikar, cerita-cerita mereka terjalin erat, membentuk gambaran utuh tentang kehidupan yang terus berubah.
Desa Mantaren 1 mengisahkan tentang perjalanan mereka naik ces, menanam padi dengan cara manugal, hingga harapan akan desa yang lebih maju, di mana jalan aspal terbentang, pendidikan berkembang, dan kesejahteraan merata.
“Kami percaya bahwa desa maju bukan hanya mimpi, tetapi sesuatu yang nyata!” ujar Ganti, salah satu peserta Desa Mantaren 1 penuh semangat.
Desa Buntoi membawa penonton ke tahun 1970, di mana sawah dan kebun melimpah, sebelum membawa mereka ke masa kini dengan keberhasilan pengelolaan hutan desa. Harapan mereka? Jalan usaha tani yang lebih baik, ekowisata berkembang, dan bahkan perguruan tinggi berdiri di desa mereka.
Kelurahan Kalawa menuturkan kisah keteguhan generasi sebelumnya, dilanjutkan dengan aksi nyata generasi kini dalam menjaga hutan. Mereka menutup penampilan dengan lagu “Merah Putih,” menggambarkan impian masa depan yang lebih sejahtera.

“Jangan biarkan warisan nenek moyang kita hilang! Kami akan terus menjaga hutan dan membangun desa!” teriak Kiki, peserta dari Kalawa.
Desa Gohong, Garung, dan Kanamit Barat juga tak kalah menggugah. Dari kehidupan nelayan yang dulu melimpah, hingga tantangan kini akibat perubahan alam, mereka mengajak semua untuk merenung: bagaimana desa-desa ini akan bertahan dan berkembang di masa depan?
Siang hari, festival beralih ke sesi refleksi. Para peserta menuliskan komitmen mereka di selembar metaplan sebuah janji untuk masa depan yang lebih baik. Kata “Kahayan Hilir” terbentuk dari tiap kelompok, menyatukan tekad yang tersebar.
Tak cukup dengan kata-kata, mereka pun merangkai nada, menciptakan lagu-lagu yang menyuarakan komitmen mereka. Dari Ganti hingga Kiki dan kelompoknya, suara mereka menggema, membawa pesan bahwa masa depan hutan ada di tangan mereka.
Hari semakin sore, tetapi semangat tak meredup. Lagu “Kahayan Hilir” dinyanyikan bersama, menutup hari dengan energi dan harapan. Seperti akar pohon yang saling terhubung di bawah tanah, desa-desa ini pun saling menguatkan, menyatukan visi untuk menjaga hutan, tanah, dan kehidupan mereka.
Festival ini bukan sekadar perayaan. Ia adalah cermin bagi desa-desa untuk melihat ke belakang, menapaki masa kini, dan merancang masa depan. Sebab, seperti pepatah Dayak, “Hutan adalah ibu, sungai adalah ayah, dan tanah adalah warisan.” Dan hari ini, para penjaga hutan telah menuliskan sejarah baru mereka sendiri.
“Kita adalah penjaga hutan! Jika bukan kita, siapa lagi?” seru Suhartono di penghujung acara, mengobarkan semangat yang akan terus menyala.
Penulis: Alma
Add a Comment