Menjaga Air di Tengah Musim Kering

Musim kemarau membuat debit air di Handil Sei Asam, Desa Buntoi, Kahayan Hilir, Pulang Pisau, berkurang bahkan surut. Jalur menuju kebun masih dapat dilalui perahu ces, tetapi hanya saat air pasang. Ketika surut, sebagian jalur menjadi kering dan sulit dilewati.

 

Ketua Handil Sei Asam, Yueldrin, mengatakan kondisi air sangat bergantung pada pasang surut. Namun, keberadaan sekat kanal atau tabat membantu menahan air saat musim kering. “Kalau air pasang, airnya masuk sampai ke dalam. Kalau musim kemarau seperti sekarang memang debit air agak berkurang,” ujarnya.

 

Tim Penjaga Hutan (TPH) desa Buntoi, membuat penampungan air sebagai upaya pembasahan di handi Sei Asam pada operasi Tim Darurat Karhutal (TDK). Sumber foto: KPSHK.

 

Di Sei Asam terdapat tiga sekat kanal yang dibangun KPSHK. Yueldrin melihat sekat tersebut masih mampu menampung dan menyimpan air. Bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan lahan gambut, ketersediaan air menjadi bagian penting dalam menjaga lahan tetap basah dan mengurangi risiko kebakaran. “Pembuatan tabat atau sekat kanal itu sangat bagus untuk menahan air. Sekat kanal yang dibuat KPSHK sebanyak tiga titik itu terbukti bisa menampung dan menyimpan air,” katanya.

 

Yuweldrin,Pengurus Handil Sei Asem Buntoi. Sumber foto: KPSHK.

 

Selain sekat kanal, sumur bor menjadi fasilitas penting untuk kesiapsiagaan karhutla. Beberapa sumur bor pernah dibangun melalui program Badan Restorasi Gambut (BRG), tetapi kini tidak lagi digunakan dan belum diketahui apakah masih berfungsi.

 

Menurut Yueldrin, keberadaan sumur bor tetap dibutuhkan, terutama untuk menghadapi kemungkinan kebakaran. Namun, fasilitas tersebut harus dirawat agar siap digunakan ketika diperlukan. “Sangat penting, tetapi harus dipelihara secara rutin,” ujarnya.

 

Masyarakat, kata Yueldrin, dapat dilibatkan dalam pemeliharaan karena sebagian warga memiliki kebun di sekitar lokasi sumur bor. Dengan begitu, fasilitas yang tersedia tidak hanya menjadi infrastruktur, tetapi tetap siap mendukung penanganan ketika terjadi kebakaran.

 

Pencegahan juga tidak harus menunggu api muncul. Pembasahan lahan tetap diperlukan meski kebakaran belum terjadi di Buntoi. “Sebenarnya tetap perlu dilakukan untuk pencegahan api. Walaupun belum ada api, pembasahan harus tetap ada,” katanya.

 

Yueldrin berharap masyarakat semakin berhati-hati saat beraktivitas di kebun, termasuk tidak membuang puntung rokok sembarangan. Menjaga air, merawat fasilitas, dan mencegah sumber api menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan bersama untuk mengurangi risiko karhutla.

Penulis: Alma

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *