Asap Meningkat Ekonomi Melemah

Kabut asap mengubah aktivitas sehari-hari Bu Putu. Warung kecil di pinggir jalan yang biasanya buka sejak pagi kini baru mulai melayani pembeli sekitar pukul 10.00. Jumlah orang yang melintas pun berkurang. “Selama saya jalani sekarang waktu kabut asap ini, pelanggan agak kurang. Orang yang bikin perjalanan mudik atau melintas agak kurang,” kata Bu Putu.

 

De Putu Cendrawati, yang akrab disapa Bu Putu, merupakan warga Kalawa yang sehari-hari mengelola warung kecil. Kalawa adalah Kelurahan yang berada di Kecamatan Kahayan Hilir Kabupaten Pulang Pisau di Kalimantan Tengah. Berkurangnya orang yang bepergian membuat aktivitas di sekitar warung ikut menurun dan berdampak pada pendapatannya.

 

De Putu Cendrawati, warga Kalawa. Sumber foto: KPSHK.

 

Perjalanan di Tengah Asap

Kabut asap juga memengaruhi perjalanan Bu Putu menuju kebun, dalam kondisi tertentu, ia tetap harus berangkat untuk mengantar kebutuhan suami maupun membawa konsumsi bagi tim pemadaman yang berada di lapangan.

Saat menggunakan ces atau perahu bermotor, jarak pandang yang terbatas membuat perjalanan harus dilakukan lebih hati-hati.  “Sering terjadi kecelakan di jalanan” tuturnya.

 

Ketika air sungai surut dan ces (perahu kecil) tidak dapat digunakan, Bu Putu memilih jalur darat dengan sepeda motor. Kondisi jalan yang kurang baik membuat perjalanan semakin melelahkan. “Habis naik motor pegal-pegal, badan bisa sakit-sakit karena jalannya parah,” katanya. Namun, kebutuhan tetap harus diantar. “Mau tidak mau,” ujarnya.

 

Kebun Sumber Penghidupan

Di balik asap yang mengganggu aktivitas, ada kekhawatiran lain yang dirasakan Bu Putu, kebun sebagai sumber penghidupan keluarga ikut terancam. “Sedih kalau melihat api. Takut tidak ada lagi tempat pencaharian kita,” katanya.

 

Kekhawatiran itu semakin besar karena sejumlah tanaman sedang memasuki masa berbunga. Bu Putu menyebut paken dan durian mulai berbunga, sementara daun-daun kering banyak berguguran di sekitar lahan. “Kalau apinya datang ke situ, habis terbakar semua, tidak ada penghasilan lagi nanti,” ujarnya.

 

Risiko juga mengancam pohon karet yang menjadi bagian dari penghidupan masyarakat. Jika kebun terbakar, dampaknya dapat dirasakan hingga musim berikutnya. “Yang pasti perekonomian kita menurun. Nanti kalau musim hujan, kebun kita yang berbuah dan berbunga jadi rusak. Penghasilan berkurang. Sama juga kalau pohon karet terkena api, bisa rusak juga,” kata Bu Putu.

 

Bagi Bu Putu, dampak karhutla tidak berhenti pada asap yang menutup pandangan. Aktivitas ekonomi ikut melambat, perjalanan menjadi lebih sulit, dan kebun yang menjadi sumber penghidupan berada dalam ancaman.

 

Karena itu, ia mengingatkan masyarakat untuk lebih berhati-hati saat beraktivitas di sekitar kebun. “Jangan main api, sama-sama menjaga agar tidak kebakaran,” pesannya.

 

Kabut asap membuat hari-hari Bu Putu berjalan berbeda. Warung lebih sepi, perjalanan membutuhkan kewaspadaan, sementara kebun yang menjadi sumber penghidupan juga terancam dari api, kabut asap meningkat ekonomi melemah.

Penulis: Alma
Editor: Inal

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *