Saat Guna Menjaga Api Tetap Terkendali

Guna bergerak mengikuti arah api. Selang dan mesin diarahkan ke titik yang masih menyisakan bara, sementara di sisi lain api mulai merambat. Ia bersama anggota TPH 2 Buntoi harus segera menentukan pembagian personel agar pemadaman menjangkau area yang lebih luas.

 

Hari itu, mereka tergabung dalam Tim Darurat Karhutla (TDK) yang bertugas memadamkan kebakaran di Desa Gohong. Bagi Guna, pekerjaan dimulai jauh sebelum mesin dinyalakan. Personel terlebih dahulu dikumpulkan untuk menerima arahan mengenai kondisi dan pembagian tugas. “Biasanya sebelum berangkat kami dibariskan dulu, kemudian diberi arahan sebelum menuju lokasi,” ujar Guna.

 

Guna, Tim Darurat Karhutla dari LPHD Buntoi. Sumber foto: KPSHK.

 

Di lapangan, satu mesin dapat dioperasikan empat hingga lima orang. Pembagian tersebut menyesuaikan perkembangan api dan kondisi sumber air yang tersedia. “Kalau api mulai menyebar, tim biasanya dibagi ke beberapa titik. Satu mesin bisa diisi sekitar empat sampai lima orang,” jelasnya.

 

Kebutuhan air segera menjadi persoalan. Sungai-sungai mulai surut, sementara lahan gambut dalam kondisi kering. Pemadaman akhirnya banyak bergantung pada sumur bor. “Sekarang air sungai sudah banyak yang surut. Jadi, beberapa hari ini kami lebih banyak mengandalkan sumur bor untuk mendapatkan air,” katanya.

 

Pengeboran dilakukan di sejumlah lokasi untuk menjaga pasokan bagi mesin pemadam. Ada yang berhasil menghasilkan air, tetapi sebagian lainnya gagal. “Dalam sehari bisa ada satu atau dua sumur bor yang dibuat. Tapi ada juga yang tidak berhasil mengeluarkan air,” ujar Guna.

 

Di tengah keterbatasan tersebut, pemadaman tetap berlangsung. Sebagian anggota menyusuri jalur yang dilalui api, sedangkan yang lain berkonsentrasi pada bara yang masih tersisa.

 

 

Komunikasi melalui HT membantu Guna mengetahui kebutuhan setiap titik. Personel dari lokasi yang lebih aman dapat dipindahkan untuk memperkuat area yang kewalahan. “Kalau satu titik mulai kewalahan, kami bisa langsung meminta bantuan. Kalau ada tim lain yang kondisinya sudah lebih aman, anggotanya bisa diturunkan untuk membantu,” jelasnya.

 

Dukungan itu melibatkan tim dari Buntoi, Gohong, Mantaren, dan Kalawa. Perpindahan anggota dilakukan sesuai kebutuhan tanpa mempermasalahkan asal tim. “Kerja sama di lapangan sejauh ini baik. Kalau ada tim yang membutuhkan bantuan, tim lain bisa langsung membantu,” tuturnya.

 

Di antara asap, panas, dan medan gambut yang kering, Guna menempatkan keselamatan sebagai bagian penting dari pekerjaan. “Yang paling penting, kawan-kawan relawan dan tim yang terlibat tetap menjaga diri. Ini lahan gambut, jadi kewaspadaan harus selalu diutamakan,” pesannya.

 

Bagi Guna, pemadaman bukan hanya tentang menghentikan api. Ia juga harus membaca medan, memastikan air tersedia, menjaga komunikasi, dan memastikan anggota bergerak sesuai kebutuhan.

 

Di lapangan, semua itu berlangsung dalam satu pekerjaan yang sama: menjaga api tetap terkendali tanpa mengabaikan keselamatan orang-orang yang memadamkannya.
Penulis: Alma

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *