Lampang menggenggam handy talkie (HT) erat-erat. Di hadapannya, kobaran api membesar. Asap tebal membuat malam semakin pekat. Ia mencoba memanggil rekan-rekannya melalui radio. “Ada yang dengar?”
Tidak ada jawaban.
Lampang kembali memanggil. Tetap sunyi.
Dalam situasi seperti itu, diamnya radio bukan hal biasa. Ia mulai berpikir, apakah radio rekan-rekannya mati atau mereka sudah bergerak menjauh dari lokasi.

Lampang LPHD Gohong tengah berkomunikasi dengan tim. Sumber foto: KPSHK.
Ternyata jawabannya lebih mengkhawatirkan. Rekan-rekannya memang menjauh karena kobaran api sudah terlalu berbahaya untuk didekati. “Waktu itu mereka memang menjauh dari kobaran api karena kondisinya sudah berbahaya. Apalagi kejadiannya malam hari.” Lampang, pengurus Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Gohong, mengingat kejadian itu.
Bagi Lampang, kejadian tersebut menggambarkan betapa pentingnya komunikasi ketika api mulai menguasai lapangan. Di tengah gelap, asap, suara mesin, dan jarak antarpersonel, radio menjadi penghubung yang membuat tim tetap mengetahui apa yang terjadi.
Suara yang Menjaga Tim Tetap Terhubung
Di lokasi yang jauh dari jangkauan telepon seluler, HT menjadi andalan.
Radio digunakan untuk menghubungkan personel yang bekerja di titik berbeda. Salah satunya ketika mesin pompa pemadam kebakaran mulai dioperasikan.
Operator mesin bisa berada cukup jauh dari anggota yang memegang selang dan nozel. Jika membutuhkan tambahan selang, perubahan posisi, atau informasi lain, personel di ujung pipa tidak perlu berjalan kembali menuju mesin. “Misalnya yang pegang nozel perlu menyambung selang lagi, mereka bisa langsung menyampaikannya lewat radio kepada operator mesin. Jadi tidak perlu bolak-balik atau berteriak dari kejauhan.”
Pesan yang terdengar sederhana itu bisa menghemat waktu ketika setiap menit di lapangan berarti.
Radio juga membuat beberapa anggota yang berada dalam satu frekuensi dapat mendengar informasi yang sama. Ketika seorang anggota menyampaikan kondisi titik api, anggota lain dalam jangkauan dapat langsung mengetahuinya. “Kalau menggunakan frekuensi yang sama, radio satu dengan yang lain bisa saling terhubung. Jadi, informasi yang disampaikan satu orang bisa didengar oleh anggota lain yang masih dalam jangkauan.”
Dari sana, informasi bergerak menjadi tindakan.
Ketika Titik Api Harus Segera Didatangi
Laporan mengenai titik api menjadi salah satu informasi yang harus segera diteruskan.
Tim yang sudah siaga kemudian dapat membagi personel sesuai kebutuhan. Tidak semuanya harus bergerak ke lokasi yang sama. “Kalau ada titik api yang perlu segera ditangani, personel bisa kita bagi. Misalnya dari 10 orang, lima orang diarahkan ke titik yang lebih gawat, sementara yang lainnya tetap di lokasi awal sesuai kebutuhan.”
Pembagian tugas juga sudah disiapkan sebelumnya. Ada yang mengoperasikan mesin, membawa selang, berada di ujung nozel, atau menjalankan tugas lain.
Bagi Lampang, persiapan ini penting agar anggota tidak baru menentukan peran ketika sudah berada di tengah kepulan asap. “Sebelum turun ke lapangan, pembagian tugas sudah diarahkan. Jadi ketika sampai di lokasi, masing-masing sudah tahu harus berada di posisi mana dan mengerjakan apa.”
Dengan begitu, radio bukan hanya menjadi alat untuk menyampaikan lokasi api. Ia juga menjadi sarana untuk menjaga agar setiap orang tahu apa yang harus dilakukan.
Ketika Suara Radio Tidak Selalu Sampai
Namun komunikasi di lapangan tidak selalu berjalan mulus.
Baterai bisa drop. Daya pancar memiliki batas. Tutupan lahan yang rimbun juga dapat memengaruhi jangkauan radio.
Menurut Lampang, antena pendek dapat menjangkau sekitar dua kilometer. Sementara antena tarik yang lebih panjang dapat mencapai sekitar empat kilometer, tergantung kondisi lokasi. “Kalau menggunakan antena yang pendek, jangkauannya sekitar dua
kilometer. Kalau menggunakan antena tarik yang lebih panjang, bisa lebih jauh, sekitar empat kilometer. Tapi itu juga tergantung kondisi di lapangan.”
Karena itu, memiliki perangkat saja belum cukup. “Yang paling penting sebenarnya koordinasinya. Alat sudah diberikan, tetapi kalau anggota tidak tahu cara menggunakannya atau radionya hanya dibawa di pinggang, ya sama saja tidak akan banyak membantu.”
Bagi Lampang, anggota harus terbiasa menggunakan radio, mendengarkan informasi, dan merespons ketika dibutuhkan.
Sebab di tengah kebakaran, komunikasi bukan sekadar suara yang keluar dari sebuah perangkat.
Malam ketika radio itu sunyi menjadi pengingat bagi Lampang: di balik satu panggilan yang tak terjawab, bisa ada orang yang sedang berjuang menyelamatkan diri.
Dan ketika api terus bergerak, tetap terhubung berarti tetap tahu siapa yang bergerak, ke mana harus menuju, dan kapan harus bertindak.
Penulis: Alma

Add a Comment