Pagi itu, Yulius harus menyalakan lampu kendaraan untuk menembus jalan yang tertutup kabut asap. Jarak pandang hanya sekitar 20 meter. Perjalanan yang biasanya dilakukan tanpa banyak kendala kini harus ditempuh dengan lebih hati-hati. “Kalau tidak menghidupkan lampu kendaraan, itu berbahaya dan bisa berisiko tabrakan,” kata Yulius, masyarakat Buntoi, Pulang Pisau.
Kabut asap tidak hanya menghambat pandangan di jalan. Beberapa hari terakhir, Yulius merasakan tenggorokannya kering dan sakit, disertai pusing. “Sudah beberapa hari ini tenggorokan terasa kering dan sakit, serta kepala pusing, mungkin pengaruh terhirup asap,” ujarnya.

Yulius, pemilik usaha air isi ulang masyarakat Desa Buntoi. Sumber foto: KPSHK.
Kondisi tersebut membuat sejumlah aktivitas yang biasa dilakukan Yulius harus dihentikan. Salah satunya olahraga lari yang baru beberapa bulan terakhir menjadi rutinitasnya. Setiap pagi sekitar pukul lima, ia biasa keluar untuk berlari. “Namun setelah ada kebakaran ini, otomatis lari diistirahatkan dulu. Niatnya mau sehat, kalau kondisi begini malah bisa sakit,” katanya.
Bukan hanya olahraga yang terhenti. Asap dan jarak pandang yang terbatas membuat aktivitas masyarakat ikut terganggu. Yulius mengatakan, dampaknya juga dirasakan anak-anak. “Anak-anak sampai diliburkan sekolah. Interaksi sosial masyarakat juga terganggu,” tuturnya.
Ketika Kemarau Mempengaruhi Penghidupan
Di tengah kondisi tersebut, musim kemarau turut membawa persoalan lain. Yulius yang memiliki usaha isi ulang air merasakan sumber air mulai mengering sehingga proses pengisian menjadi lebih lambat. “Pengaruhnya sumber air yang mengering Dampaknya sangat terasa,” katanya.
Bagi Yulius, kesehatan dan ekonomi menjadi dua dampak yang paling terasa. Karhutla tidak hanya menghadirkan asap, tetapi juga mempengaruhi aktivitas dan sumber penghidupan masyarakat.
Kondisi itu membuat kekhawatiran muncul jika kebakaran berlangsung lebih lama. Semakin lama asap bertahan, semakin banyak aktivitas yang harus disesuaikan.
Karena itu, Yulius berharap pencegahan dilakukan sebelum api datang. Patroli dan pemantauan titik rawan, menurutnya, perlu diperkuat agar kebakaran dapat diketahui dan ditangani lebih cepat.
Ia juga mengapresiasi Masyarakat Peduli Api (MPA), LPHD, Tim Darurat Karhutla (TDK), dan pihak lain yang berada di lapangan menangani kebakaran.
Bagi Yulius, respons cepat menjadi bagian penting dalam mencegah api meluas. Namun pencegahan tidak hanya bergantung pada mereka yang berada di garis depan. Masyarakat juga memiliki peran untuk menjaga lingkungan dan mencegah munculnya api. “Mari kita sama-sama menjaga hutan kita agar kejadian seperti ini tidak terulang terus. Kebakaran ini kan disebabkan oleh manusia dan sebenarnya bisa dicegah oleh kita juga,” pesannya.
Pagi yang biasanya dimulai dengan lari kini harus dilewati dengan menembus kabut asap. Bagi Yulius, perubahan itu menjadi gambaran sederhana tentang dampak karhutla yang masuk hingga ke kehidupan sehari-hari ketika asap datang, rutinitas pun ikut berhenti.
Penulis: Alma
Editor: Inal

Add a Comment