Menjaga Akar, Membangun Berdaya Perempuan Dayak di Pulang Pisau
Keeping Roots, Building Empowering Dayak Women in Pulang Pisau

Di tengah arus modernisasi yang kian kencang, eksistensi perempuan adat menjadi garda terdepan dalam menjaga keseimbangan antara tradisi dan tuntutan ekonomi. Di Kabupaten Pulang Pisau, semangat ini dimanifestasikan melalui Lembaga Perempuan Dayak Nasional (LPDN). Dipimpin oleh Andriani, yang juga menjabat sebagai Asisten Administrasi Umum di Kabupaten Pulang Pisau, lembaga yang baru dikukuhkan pada tahun 2024 ini membawa misi besar untuk menjadikan perempuan Dayak sebagai motor penggerak perubahan.

 

Andriani, Ketua Lembaga Perempuan Dayak Pulang Pisau yang juga menjabat sebagai Asisten III Sekretariat Setda Pulang Pisau. Sumber foto: KPSHK.

 

Fokus utama LPDN Pulang Pisau adalah pemberdayaan ekonomi kreatif yang berbasis pada potensi lokal. Andriani menekankan bahwa lembaga ini adalah wadah “dari kita untuk kita” guna mengembangkan potensi perempuan Dayak agar mampu bermitra sejajar dengan pemerintah daerah. Berbagai program nyata telah dijalankan, mulai dari budidaya ternak babi dan itik, kerajinan anyaman rotan, hingga pemanfaatan lahan pekarangan untuk menanam cabai sebagai langkah menekan inflasi.

 

Salah satu inovasi menarik yang sedang dikembangkan adalah modifikasi pangan lokal. Andriani menjelaskan, “Kita juga memperdayakan perempuan-perempuan, ibu-ibu khususnya, ada pengrajin lamang… Bagaimana nanti memodifikasi supaya bisa menjadi cinderamata bahan pangan yang awet, higienis dan bisa bertahan”. Selain itu, melalui koperasi, LPDN membantu memasarkan produk turunan seperti sambal, telur asin, hingga wine lokal hasil karya ibu-ibu Dayak.

 

Bagi masyarakat Dayak, hutan bukan sekadar kumpulan pepohonan, melainkan identitas budaya yang sakral. Andriani menegaskan ketergantungan yang mendalam antara manusia dan alam. “Orang Dayak itu dekat dengan hutan. Hutan hilang, kebudayaan Dayak pun akan hilang… Karena kami berpikir bahwa orang Dayak itu bahwa hutan itu ada nafasnya”.

 

Visi ini sejalan dengan konsep edu-ecotourism yang sedang dijajaki bersama KPSHK. LPDN menyambut baik kolaborasi ini, di mana wisatawan tidak hanya datang untuk berfoto, tetapi mengalami langsung kehidupan masyarakat, belajar merawat hutan, hingga mengenal tanaman obat-obatan. Dalam pandangan Andriani, kolaborasi ini harus tetap mengedepankan etika adat: “Yang pasti kita harus, kalau bahasa Jawa ya, permisi dulu. Karena di sana ada tokoh adat. Ada damang, ada mantir”.

 

Untuk memastikan regenerasi budaya tetap berjalan, LPDN menginisiasi Sekolah Lapang yang berpusat di Petuk Bukit, Kecamatan Rakumpit. Di sini, anak-anak dan remaja diajarkan berbagai keterampilan tradisional seperti membuat manik-manik, menganyam, hingga memahami kode-kode adat dalam berpakaian. Kurikulumnya pun disusun secara khusus agar tidak mengganggu pendidikan formal mereka.

 

Sekolah lapang ini juga menjadi benteng pertahanan bahasa dan tata krama lokal. Di tengah kontaminasi bahasa luar, anak-anak diajarkan kembali menghargai kearifan lokal, termasuk sistem kekerabatan Dayak yang unik.

 

Melalui semboyan “Perempuan Dayak Bangkit, Bergerak Maju dan Berkeadilan”, LPDN Pulang Pisau optimis dapat mencetak perempuan-perempuan yang tidak lagi bergantung secara ekonomi, namun tetap teguh menjaga kelestarian bumi Borneo. Harapannya, setiap desa memiliki satu keunikan khas baik itu kuliner, tarian, maupun kerajinan yang mampu mengangkat harkat dan martabat perempuan Dayak di tingkat nasional.

Penulis: Hurin

Editor: JW & Kiss

Amidst the increasingly rapid pace of modernization, indigenous women are at the forefront of maintaining a balance between tradition and economic demands. In Pulang Pisau Regency, this spirit is manifested through the National Dayak Women’s Institute (LPDN). Led by Andriani, who also serves as the Assistant for General Administration in Pulang Pisau Regency, this institution, which was only inaugurated in 2024, has a major mission to make Dayak women the driving force of change.

 

Andriani, Chair of the Dayak Women’s Institute in Pulang Pisau, who also serves as Assistant III to the Pulang Pisau Regional Secretariat. Photo source: KPSHK.

 

The main focus of LPDN Pulang Pisau is empowering the creative economy based on local potential. Andriani emphasized that this institution is a platform “from us for us” to develop the potential of Dayak women so they can partner equally with the local government. Various concrete programs have been implemented, ranging from pig and duck farming, rattan weaving, and utilizing yard space for chili pepper cultivation as a measure to reduce inflation.

 

One of the interesting innovations currently being developed is the modification of local food. Andriani explained, “We also empower women, especially mothers, including lamang artisans… How will we modify it to become a food souvenir that is durable, hygienic, and sustainable?” Furthermore, through cooperatives, LPDN helps market derivative products such as chili sauce, salted eggs, and even local wine made by Dayak women.

 

For the Dayak people, the forest is not just a collection of trees, but a sacred cultural identity. Andriani emphasized the deep interdependence between humans and nature. “Dayak people are close to the forest. If the forest is lost, Dayak culture will also be lost… Because we believe that the Dayak people believe that the forest is the breath of life.”

 

This vision aligns with the edu-ecotourism concept currently being explored with KPSHK. LPDN welcomes this collaboration, where tourists come not only to take photos but also to experience firsthand community life, learn about forest care, and learn about medicinal plants. In Andriani’s view, this collaboration must prioritize traditional ethics: “What’s certain is that we must, in Javanese, ask permission first. Because there are traditional figures there. There are damangs, there are mantirs.”

 

To ensure continued cultural regeneration, LPDN initiated a Field School centered in Petuk Bukit, Rakumpit District. Here, children and adolescents are taught various traditional skills such as beading, weaving, and understanding traditional dress codes. The curriculum is specifically designed so as not to interfere with their formal education.

 

This field school also serves as a stronghold for local language and etiquette. Amidst the contamination of foreign languages, children are taught to appreciate local wisdom, including the unique Dayak kinship system.

 

Through the motto “Dayak Women Rise, Move Forward, and Be Just,” LPDN Pulang Pisau is optimistic about producing women who are no longer economically dependent but remain steadfast in preserving the land of Borneo. The hope is that each village will have a unique specialty, whether culinary, dance, or craft, that can elevate the dignity of Dayak women at the national level.

Writer: Hurin

Editor: JW & Kiss

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *