Bunga Menjadi Penunjuk Arah Sarang Bajanyi
Flowers Become Direction Indicators for Bajanyi

 

Bagi masyarakat Dayak Ngaju di Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, lebah khususnya lebah madu hutan memiliki peran penting dan sebutan khusus. “Kami menyebutnya Bajanyi. Itu bahasa Dayak Ngaju,” ujar Bandi, warga Kelurahan Kalawa, sambil mengamati lebah yang sedang mengisap sari bunga. Sela terbang, lebah akan singgah sejenak di bunga untuk mengambil sari. Setelah cukup, Bajanyi akan terbang kembali ke sarangnya. “Sarang lebah biasanya tak jauh dari tempatnya mencari sari bunga,” jelas Bandi. 

 

Lebah tengah mengumpulkan serbuk sari. Sumber foto: KPSHK.

 

Masyarakat Dayak Ngaju yang terbiasa mencari madu memahami bahwa momen terpenting justru terjadi saat Bajanyi selesai mengisap sari. Arah terbang ketika pulang itulah yang menunjukkan lokasi sarang. “Ke mana arah pulangnya, pasti di situ letaknya. Tidak jauh, paling 200 sampai 500 meter. Paling jauh satu kilometer,” kata Bandi.

 

Bajanyi tidak langsung kembali ke bunga yang sama. Setelah membawa sari madu, lebah akan mengarah lurus menuju sarang sebagai tempat menyimpan madu dan membesarkan anak-anaknya. Pola ini menjadi penanda alam yang dipercaya dan dibaca secara turun-temurun. “Paling setengah jam saja. Kalau sudah dapat semuanya, lebah itu pulang ke sarangnya,” jelas Bandi.

 

Bandi Erang, Ketua LPHD Kalawa. Sumber foto: KPSHK.

 

Bajanyi juga tidak bergantung pada satu jenis bunga. Berbagai pohon berbunga di hutan menjadi sumber sari bagi lebah madu hutan. Keberagaman bunga inilah yang membuat madu hutan memiliki rasa dan aroma yang berbeda-beda, tergantung musim dan kondisi hutan. “Pokoknya bunga apa saja yang ada madunya bisa. Karena itu, rasa madu hutan juga beda-beda,” ujar Bandi.

 

Pengetahuan tentang Bajanyi tidak bisa dilepaskan dari upaya menjaga hutan. Tanpa hutan yang sehat dan pohon-pohon berbunga yang beragam, Bajanyi tidak akan datang. Lebah membutuhkan ruang hidup, sumber pakan, dan ketenangan agar bisa terus berkembang.

 

Bagi masyarakat Dayak Ngaju, menjaga hutan berarti menjaga keberlanjutan Bajanyi. Semakin banyak pohon berbunga yang tumbuh dan terpelihara, semakin besar peluang lebah madu hutan bertahan dan menghasilkan madu. Hubungan ini membentuk kesadaran bahwa mengambil madu tidak boleh serakah dan hutan harus tetap dijaga. “Bajanyi itu ada tiga macam yang bisa diambil. Pertama madunya, kedua anaknya yang masih muda, dan ketiga lilinnya,” jelas Bandi. Pemanfaatan itu dilakukan dengan cara hati-hati agar sarang lebah tetap hidup dan Bajanyi bisa kembali datang.

 

Bajanyi bukan sekadar lebah. Ia menjadi pengingat bahwa hutan, bunga, dan manusia terhubung dalam satu siklus kehidupan. Selama hutan dijaga dan pohon-pohon berbunga tetap tumbuh, Bajanyi akan terus pulang ke sarangnya dan madu hutan akan tetap menjadi berkah yang lestari.

Penulis: Alma

Editor: JW & Kiss

 

For the Ngaju Dayak people of Pulang Pisau, Central Kalimantan, bees, especially wild honey bees, play a crucial role and have a special name. “We call them Bajanyi. That’s in the Ngaju Dayak language,” said Bandi, a resident of Kalawa Village, while observing bees sucking nectar from flowers. While flying, the bees will stop briefly at flowers to collect nectar. Once they have had enough, the Bajanyi will fly back to their hive. “The beehive is usually not far from where they are looking for nectar,” explained Bandi.

 

 

Bees collecting pollen. Photo source: KPSHK.

 

The Ngaju Dayak people, accustomed to foraging for honey, understand that the most important moment occurs when the Bajanyi has finished sucking nectar. The direction they fly back home indicates the location of the hive. “Whichever direction they return, that’s where they are. It’s not far, at most 200 to 500 meters. At most a kilometer,” said Bandi.

 

The Bajanyi doesn’t immediately return to the same flower. After collecting nectar, the bees will head straight to the hive, where they will store the nectar and raise their young. This pattern is a natural marker that is believed in and read from generation to generation. “It only takes half an hour. Once it’s all found, the bee returns to its hive,” explained Bandi.

Bandi Erang, Head of the Kalawa Forestry and Forestry Service Agency (LPHD). Photo source: KPSHK.

 

Banyi also doesn’t depend on a single type of flower. Various flowering trees in the forest serve as nectar sources for forest honeybees. This floral diversity is what gives forest honey its distinct flavor and aroma, depending on the season and forest conditions. “Any flower with honey can be used. Therefore, the taste of forest honey also varies,” said Bandi.

 

Knowledge of Bajanyi is inseparable from efforts to protect the forest. Without healthy forests and diverse flowering trees, Bajanyi will not come. Bees need living space, food sources, and tranquility to thrive.

 

For the Ngaju Dayak people, protecting the forest means maintaining the sustainability of Bajanyi. The more flowering trees that grow and are maintained, the greater the chance for forest honeybees to survive and produce honey. This relationship fosters awareness that honey harvesting should not be done greedily and that the forest must be protected. “There are three types of Bajanyi that can be harvested. First, the honey, second, the young offspring, and third, the wax,” explained Bandi. This utilization is carried out carefully to ensure the hive remains healthy and the Bajanyi return.

 

Bajanyi are more than just bees. They serve as a reminder that forests, flowers, and humans are connected in a single cycle of life. As long as the forest is protected and the flowering trees continue to grow, Bajanyi will continue to return to their hives, and forest honey will remain a lasting blessing.

Writer: Alma

Editor: JW & Kiss

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *