Pengembangan ekowisata berbasis pendidikan kini menjadi sorotan utama bagi para pemimpin lokal di wilayah Pulang Pisau. Melalui skema Perhutanan Sosial, Kelurahan Kalawa, Desa Mantaren I, dan Desa Gohong menyimpan potensi alam dan budaya yang besar, namun masih menghadapi tantangan serius dalam hal infrastruktur dan kapasitas sumber daya manusia.
Bagi Lurah Kalawa, Afrizal Burhana Faiz, ekowisata adalah kunci untuk memutar roda ekonomi warga yang selama ini stagnan. Ia mengamati bahwa perputaran ekonomi di wilayahnya sangat minim karena warga lebih sering berbelanja ke kelurahan tetangga. Untuk mengubah hal tersebut, ia berencana menghidupkan kembali histori lokal dan potensi alam yang unik.

Afrizal Burhana Faiz, Lurah Kalawa. Sumber foto: KPSHK.
Salah satu fokus utamanya adalah pengembangan kembali komoditas kopi yang dulu sempat berjaya. Rizal menjelaskan:
“Saya mau kopi ini bisa berhasil lagi di Kelurahan Kalawa. Makanya perlu dengan pembekalan-pembekalan itu.”
Selain kopi, ia melihat adanya potensi sejarah yang kuat melalui keberadaan situs kuno di tengah hutan. “Kita punya situs Banama, ada kapal besar dulu yang anehnya kenapa kapal besar itu bisa ada di tengah hutan,” ungkapnya. Rizal meyakini bahwa dengan membenahi situs dan narasi sejarah tersebut, Kalawa akan memiliki nilai tambah yang menarik bagi wisatawan pendidikan maupun peneliti.
Uneng, Kepala Desa Mantaren I. Sumber foto: KPSHK.
Senada dengan Rizal, Kepala Desa Mantaren I, Uneng, menyambut baik konsep Edu-Ecotourism sebagai sarana promosi desa. Menurutnya, daya tarik utama desa terletak pada wisata susur sungai dan pengenalan ekosistem hutan gambut. Namun, ia tidak menutup mata terhadap kendala internal, terutama kondisi Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) yang tidak aktif akibat kurangnya SDM yang mau bekerja secara sukarela. Uneng menekankan pentingnya persiapan yang matang jika program ini ingin dijalankan.
Di Desa Gohong, Kepala Desa Epansyah melihat ekowisata pendidikan sebagai peluang kerja bagi para lulusan sarjana di desanya yang saat ini belum memiliki pekerjaan tetap. Ia merasa prihatin melihat pemuda berpendidikan tinggi hanya menjadi masyarakat biasa tanpa wadah untuk mengaplikasikan ilmunya. “Sayang juga kalau ibaratnya kan sudah lulus sarjana, kembali ke desa jadi masyarakat biasa. Gimana nanti bisa sama-sama membangun desa, dengan adanya ekowisata seperti ini,” ujarnya.

Epansyah, Kepala Desa Gohong. Sumber foto: KPSHK.
Ketiga pemimpin ini sepakat bahwa dukungan dari pihak luar, seperti KPSHK dan pemerintah pusat, sangatlah krusial. Epansyah di Gohong mengharapkan adanya peningkatan kapasitas bagi masyarakat dan LPHD mengenai manajemen ekowisata. Sementara itu, Rizal di Kalawa sangat menantikan bantuan dalam hal infrastruktur jalan kabupaten yang dapat menghubungkan berbagai potensi di setiap wilayah kecil di kelurahannya.
Secara keseluruhan, visi para pemimpin ini adalah menciptakan ekosistem wisata yang tidak hanya menjual keindahan alam, tetapi juga memberikan edukasi mendalam bagi pengunjung sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Dengan lokasi yang strategis di antara dua ibu kota provinsi, wilayah-wilayah ini memiliki modal besar untuk menjadi destinasi ekowisata unggulan di masa depan.
Penulis: Hurin
The development of education-based ecotourism is now a major focus for local leaders in the Pulang Pisau region. Through the Social Forestry scheme, Kalawa Village, Mantaren I Village, and Gohong Village possess significant natural and cultural potential, but still face serious challenges in terms of infrastructure and human resource capacity.
For Kalawa Village Head, Afrizal Burhana Faiz, ecotourism is key to reviving the residents’ stagnant economy. He observed that economic turnover in his area was minimal because residents often shopped in neighboring villages. To change this, he plans to revive local history and unique natural resources.

Afrizal Burhana Faiz, Head of Kalawa Village. Photo source: KPSHK.
One of his main focuses is the revival of the once-thriving coffee commodity. Rizal explained:
“I want coffee to thrive again in Kalawa Village. That’s why we need these resources.”
Besides coffee, he sees strong historical potential through the existence of ancient sites within the forest. “We have the Banama site, where a large ship once existed. It’s strange how such a large ship ended up in the middle of the forest,” he said. Rizal believes that by improving the site and historical narrative, Kalawa will have added value, attracting educational tourists and researchers.
Uneng, Head of Mantaren I Village. Photo source: KPSHK.
Echoing Rizal’s sentiments, the Head of Mantaren I Village, Uneng, welcomed the concept of Edu-Ecotourism as a means of village promotion. According to him, the village’s main attraction lies in river cruises and an introduction to the peat forest ecosystem. However, he acknowledged internal challenges, particularly the inactivity of the Village-Owned Enterprise (BUMDES) due to a lack of volunteer staff. Uneng emphasized the importance of thorough preparation if this program is to be implemented.
In Gohong Village, Village Head Epansyah sees educational ecotourism as a job opportunity for university graduates in his village who currently lack permanent employment. He expressed concern about seeing highly educated young people simply becoming ordinary citizens without a platform to apply their knowledge. “It would be a shame if, after graduating, they returned to the village and became ordinary citizens. How can we all develop the village with ecotourism like this?” he said.

Epansyah, Head of Gohong Village. Photo source: KPSHK.
The three leaders agreed that support from external parties, such as the Forestry and Environmental Management Agency (KPSHK) and the central government, is crucial. Epansyah in Gohong hopes for increased capacity for the community and the Village Development Planning Agency (LPHD) regarding ecotourism management. Meanwhile, Rizal in Kalawa eagerly anticipates assistance with district road infrastructure that can connect the various potential areas within his sub-district.
Overall, these leaders’ vision is to create a tourism ecosystem that not only promotes natural beauty but also provides in-depth education for visitors while improving the well-being of local communities. With strategic locations between two provincial capitals, these areas have significant potential to become leading ecotourism destinations in the future.
Author: Hurin
Add a Comment