Pelajar Kahayan Hilir, Jabiren Raya, dan Maliku Jadi Duta Pencegahan Karhutla
Students from Kahayan Hilir, Jabiren Raya, and Maliku Become Forest and Land Fire Prevention Ambassadors

Musim kemarau kembali membawa perhatian pada ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulang Pisau. Ketika kondisi lahan mulai mengering, kewaspadaan terhadap potensi kebakaran perlu diperkuat. Namun, mencegah karhutla bukan hanya tentang kesiapan petugas di lapangan, menara pantau, atau posko siaga. Pencegahan juga dimulai dari pengetahuan dan kepedulian yang dibangun sejak dini.

 

Sekolah menjadi salah satu ruang penting untuk menumbuhkan kesadaran tersebut. Dari ruang kelas, para pelajar tidak hanya belajar mengenali bahaya karhutla, tetapi juga diajak memahami bagaimana mereka dapat mengambil peran dalam mencegahnya.

 

Semangat inilah yang kemudian diwujudkan oleh Program Inisiatif Kahayan Hilir (IKH) melalui Kampanye Duta Pencegahan Karhutla. Kegiatan yang dilaksanakan pada 13–14 Agustus 2026 ini menyasar 12 SMA/SMK sederajat di Kecamatan Kahayan Hilir, Kecamatan Jabiren Raya, dan Kecamatan Maliku.

 

Kampanye Duta Pencegahan Karhutla tersebut merupakan bagian dari rangkaian Darung Bawan 2026, sebuah kegiatan yang dilaksanakan secara rutin setiap tahun sebagai ruang untuk membangun kepedulian dan keterlibatan masyarakat dalam menghadapi ancaman karhutla. Pada tahun ini, rangkaian Darung Bawan mengangkat semangat “Melawan Super El Nino di Kahayan Hilir”, dengan memperkuat upaya pencegahan dan keterlibatan berbagai pihak, termasuk generasi muda.

 

Foto bersama tim IKH bersama salah satu Kepsek dan Guru Pendamping Calon Duta Kampanye Pencegahan Karhutla dari SMK Karya Pulang Pisau . Sumber foto: KPSHK.

 

Melalui kampanye ini, KPSHK dan LPHD membawa pesan pencegahan karhutla lebih dekat kepada para pelajar. Mereka diajak memahami penyebab dan dampak karhutla, upaya pencegahan di tingkat keluarga dan masyarakat, larangan melakukan pembakaran lahan, hingga tata cara melaporkan apabila menemukan asap, api, atau aktivitas yang berpotensi menimbulkan kebakaran.

 

Bagi KPSHK dan LPHD, melibatkan pelajar bukan sekadar memperluas jangkauan sosialisasi. Kegiatan ini menjadi upaya untuk menumbuhkan generasi muda yang memiliki pengetahuan dan kepedulian terhadap lingkungan sekaligus mampu meneruskan pesan pencegahan kepada teman sebaya, keluarga, dan masyarakat.

 

Di SMAN 3 Maliku, Kepala Sekolah Hadi Suwiryo menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, keterlibatan generasi muda dapat membuka ruang bagi siswa untuk memahami persoalan karhutla sekaligus membagikan pengetahuan yang mereka peroleh kepada lingkungan sekitar. “Kegiatan ini sangat bagus. Adanya Program Inisiatif Kahayan Hilir yang melaksanakan kegiatan Duta Kampanye Pencegahan Karhutla memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk lebih memahami tentang pencegahan karhutla. Pengetahuan tersebut nantinya bisa mereka bagikan kepada teman-teman di sekolah maupun kepada masyarakat di desa,” ujarnya.

 

Tim IKH bersama Hadi Suwiknyo Kepsek, Guru Pembina serta Calon Duta Kampanye Pencegahan Karhutla dari SMAN 3 Maliku. Sumber foto: KPSHK.

 

Bagi Hadi, pelajar dapat menjadi penghubung informasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti di ruang kelas, tetapi dapat diteruskan melalui percakapan sederhana dengan teman dan keluarga maupun melalui keterlibatan mereka di lingkungan desa.

 

Antusiasme juga datang dari Elvina, siswi SMAS PGRI Pulang Pisau. Ia melihat kegiatan Duta Kampanye Pencegahan Karhutla sebagai kesempatan untuk menambah pengetahuan sekaligus mengambil bagian dalam menjaga lingkungan. “Saya sangat antusias mengikuti Duta Kampanye Pencegahan Karhutla ini. Kegiatan ini dapat meningkatkan pengetahuan dan kepedulian kami sebagai pelajar terhadap lingkungan, khususnya tentang cara mencegah kebakaran hutan dan lahan. Saya juga jadi memahami bahwa pencegahan karhutla bukan hanya tugas pemerintah atau petugas, tetapi tanggung jawab kita bersama,” katanya.

 

Melalui Kampanye Duta Pencegahan Karhutla, KPSHK dan LPHD mendorong pelajar untuk menjadi agen perubahan di tingkat lokal. Mereka tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga dipersiapkan untuk menyampaikan pesan edukasi kepada lingkungan sekitarnya. Dalam rancangan kegiatan, para duta diarahkan untuk menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran dan budaya pencegahan karhutla yang berkelanjutan.

 

Pelibatan sekolah menjadi langkah penting karena pesan pencegahan dapat bergerak lebih jauh. Apa yang dipelajari seorang siswa di sekolah dapat dibawa pulang, dibicarakan bersama keluarga, dan dibagikan kepada masyarakat di desa.

 

Di tengah ancaman karhutla pada musim kemarau, harapan untuk mencegah kebakaran tidak hanya berada di tangan petugas. Dari sekolah-sekolah di Kahayan Hilir, Jabiren Raya, dan Maliku, tumbuh generasi muda yang mulai memahami bahwa menjaga hutan dan gambut adalah tanggung jawab bersama.

 

Darung Bawan terus menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai pihak dalam semangat yang sama. Tahun ini, semangat itu tumbuh di sekolah-sekolah, melalui para pelajar yang belajar, berbagi, dan bersiap menjadi bagian dari gerakan pencegahan karhutla.

Sebab, mencegah karhutla tidak selalu dimulai dari api yang sudah menyala. Ia bisa dimulai dari satu pengetahuan, satu kepedulian, dan satu ajakan untuk menjaga lingkungan.

Penulis: Alma

The dry season has once again drawn attention to the threat of forest and land fires in Pulang Pisau. As the land dries out, vigilance regarding potential fires must be heightened. However, preventing these fires is not solely a matter of the readiness of field personnel, watchtowers, or emergency posts; prevention also begins with knowledge and awareness cultivated from an early age.

 

Schools serve as a vital setting for fostering this awareness. In the classroom, students not only learn to recognize the dangers of forest and land fires but are also encouraged to understand the role they can play in preventing them.

 

This spirit is embodied by the Kahayan Hilir Initiative (IKH) Program through its Forest and Land Fire Prevention Ambassador Campaign. Held on August 13–14, 2026, the activity targeted 12 high schools and vocational schools (SMA/SMK) across the Kahayan Hilir, Jabiren Raya, and Maliku districts.

 

The Prevention Ambassador Campaign is part of the annual *Darung Bawan* series, an event designed to build community awareness and engagement in addressing the threat of forest and land fires. This year, the *Darung Bawan* series adopted the theme “Fighting Super El Niño in Kahayan Hilir,” emphasizing strengthened prevention efforts and the involvement of various stakeholders, including the younger generation.

 

A group photo featuring the IKH team alongside a principal and a supervising teacher of prospective Fire Prevention Ambassadors from SMK Karya Pulang Pisau. Photo credit: KPSHK.

 

Through this campaign, KPSHK and LPHD bring the message of fire prevention closer to students. Students are encouraged to understand the causes and impacts of these fires, prevention measures at the family and community levels, prohibitions against land burning, and the proper procedures for reporting smoke, flames, or activities that could potentially spark a fire.

 

For KPSHK and LPHD, involving students goes beyond merely expanding the reach of their outreach efforts. This activity aims to foster a young generation that is knowledgeable and concerned about the environment, while also being capable of passing on prevention messages to their peers, families, and the wider community.

 

At SMAN 3 Maliku, Principal Hadi Suwiryo welcomed the initiative. He believes that youth involvement creates opportunities for students to understand the issue of forest and land fires (*karhutla*) and share the knowledge they have gained with their communities. “This is an excellent activity. The Kahayan Hilir Initiative Program, through its Forest and Land Fire Prevention Campaign Ambassador initiative, gives young people the chance to gain a deeper understanding of fire prevention. They can then share this knowledge with friends at school and with people in their villages,” he said.

 

The IKH team with Principal Hadi Suwiknyo, a supervising teacher, and prospective Forest and Land Fire Prevention Campaign Ambassadors from SMAN 3 Maliku. Photo credit: KPSHK.

 

For Hadi, students can serve as a bridge for information between schools, families, and the community. The knowledge gained need not remain confined to the classroom; it can be shared through simple conversations with friends and family or through active participation in village life.

 

Elvina, a student at SMAS PGRI Pulang Pisau, also expressed great enthusiasm. She views the Forest and Land Fire Prevention Campaign Ambassador program as an opportunity to expand her knowledge while playing a part in environmental conservation. “I am very excited to participate in this campaign. It helps increase our knowledge and concern for the environment as students—specifically regarding how to prevent forest and land fires. I’ve also come to realize that preventing these fires isn’t just the job of the government or officials; it is a shared responsibility,” she said.

 

Through the Forest and Land Fire Prevention Campaign Ambassador program, KPSHK and LPHD encourage students to become agents of change at the local level. They not only acquire knowledge but are also prepared to convey educational messages to their communities. The program is designed to guide these ambassadors to play an active role in building awareness and fostering a sustainable culture of fire prevention.

 

Involving schools is a crucial step, as it allows prevention messages to reach a wider audience. What students learn at school can be taken home, discussed with their families, and shared with the village community.

 

Amidst the threat of forest and land fires during the dry season, the hope for prevention does not rest solely in the hands of officials. From schools in Kahayan Hilir, Jabiren Raya, and Maliku, a young generation is emerging that understands protecting forests and peatlands is a shared responsibility.

 

Darung Bawan continues to serve as a space bringing various parties together in a shared spirit. This year, that spirit is growing within schools, through students who are learning, sharing, and preparing to become part of forest and land fire prevention efforts.

After all, preventing forest and land fires does not always begin only after a fire has already ignited. It can start with a single piece of knowledge, a sense of concern, and a call to protect the environment.

Author: Alma

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *