Gemini_Generated_Image_en94gpen94gpen94.png

Kalawa Menjaga Gambut Tetap Basah

Kelurahan Kalawa, Kecamatan Kahayan Hilir, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah menjadi ruang hidup yang bertumpu pada gambut basah. Gambut bukan sekadar bentang alam, melainkan sistem kehidupan yang dijaga dari hari ke hari. Air yang tertahan di dalam tanah tidak hanya menjaga kelembapan, tetapi juga menahan api, menyimpan karbon, dan memastikan masyarakat tetap dapat menggantungkan hidupnya pada lanskap yang sama.

 

Namun, kondisi itu tidak selalu hadir.

Beberapa tahun lalu, warga merasakan sendiri perubahan ketika air perlahan menghilang. Permukaan tanah mengering, mudah retak, dan saat kemarau datang, kekhawatiran akan kebakaran menjadi nyata. Pengalaman tersebut membekas sebagai ingatan kolektif bahwa gambut kering berarti ancaman bagi semua.

 

Kesadaran itu kemudian tumbuh menjadi aksi.

Melalui Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD), masyarakat mulai menyusun langkah pemulihan yang dapat dilakukan secara bersama. Gerakan tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan melalui kesepakatan desa, gotong royong, dan pembagian peran yang jelas. Upaya menjaga air tetap berada dalam kawasan gambut menjadi salah satu fokus utama, agar kondisi tidak kembali seperti sebelumnya. “Dulu air cepat sekali turun. Sekarang sejak ada upaya menjaga air, lahan tetap basah lebih lama,” ujar Bandi, Ketua LPHD Kalawa, mengenang perubahan yang dirasakan.

 

Perjalanan itu tidak langsung mulus. Keraguan sempat muncul, terutama terkait kemungkinan lahan menjadi terlalu basah dan mengganggu aktivitas. Namun, ruang-ruang diskusi di tingkat desa perlahan menjawab kekhawatiran tersebut. Warga mulai melihat sendiri perubahan yang terjadi bahwa menjaga air justru menciptakan kondisi yang lebih stabil.

 

Peran pendamping seperti KPSHK memperkuat proses yang sudah berjalan. Pendampingan tidak berhenti pada aspek teknis, tetapi juga mendorong pemahaman utuh tentang fungsi gambut sebagai sistem hidrologi. Masyarakat tidak hanya diajak bekerja, tetapi juga memahami alasan di balik setiap langkah. “Menjaga gambut tetap basah itu bukan sekadar soal teknis, tapi bagaimana desa bisa mengatur airnya sendiri,” ungkap Abdul Azis, Peat Restoration Manager (PRM) KPSHK.

 

Pada titik tersebut, LPHD berkembang menjadi lebih dari sekadar lembaga. Ia menjadi ruang bersama untuk merawat komitmen. Pengorganisasian kerja lapangan, pemeliharaan upaya yang sudah dilakukan, hingga musyawarah untuk menentukan langkah berikutnya berjalan melalui peran LPHD.

 

Perubahan perlahan terlihat. Air tidak lagi cepat surut seperti sebelumnya. Vegetasi khas gambut mulai kembali, dan risiko kebakaran menurun. Perubahan paling penting terlihat pada cara pandang masyarakat terhadap gambut. “Sekarang kami lebih hati-hati. Kalau air dijaga, kami juga lebih aman,” kata Sakem, warga Kalawa.

 

Cerita dari Kalawa menunjukkan bahwa menjaga gambut tetap basah bukan hanya soal metode, tetapi tentang bagaimana desa mengambil peran atas ruang hidupnya sendiri. Keputusan-keputusan yang diambil bersama, sekecil apa pun, menjadi fondasi bagi perubahan yang lebih besar.

 

Pada akhirnya, gambut yang tetap basah bukan hanya tentang ekosistem yang terjaga. Gambut menjadi jaminan keberlanjutan hidup desa, dan melalui tangan masyarakat sendiri, jaminan itu terus dipertahankan.

 

Penulis: Alma

 

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *