image-8

Branding Madu Kelulut dalam Dunia Pemasaran
Branding Kelulut Honey in the World of Marketing

Salah satu jenis produk lebah yang mungkin agak jarang didengar adalah madu kelulut. Madu meliponin atau stingless bee honey berasal dari spesies lebah Trigona itama. Madu jenis ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan dalam keperluan pengobatan modern.

Banyak influencer kecantikan dan pengguna media sosial yang mempromosikan penggunaan madu sebagai bagian dari rutinitas perawatan kulit mereka. Hal ini membantu meningkatkan popularitas madu sebagai bahan alami dalam perawatan kulit.

Radikal bebas tidak hanya mempengaruhi tubuh dengan menyebabkan berbagai penyakit yang bertahan lama, tetapi juga menyebabkan penuaan kulit, yang pasti akan mengganggu penampilan seseorang, terutama wajah. Madu kelulut yang merupakan sumber antioksidan alami dapat membantu mencegah penuaan kulit dengan melindungi kulit dari radikal bebas. Oleh karena itu, kulit akan tampak lebih muda awet.[1]

Saat ini, masker wajah dari madu menjadi trend skincare mask alami. Banyak orang beralih ke produk alami dan organik untuk perawatan kulit mereka, dan madu adalah salah satu pilihan yang aman dan efektif untuk masker wajah alami.

Madu memiliki banyak manfaat, jadi tidak heran jika banyak remaja dan dewasa memilihnya untuk perawatan kulit mereka. Trennya kemungkinan besar akan terus meningkat seiring dengan kesadaran yang lebih tinggi tentang pentingnya bahan alami dalam perawatan kulit.

KPSHK melalui program pengelolaan terpadu ekosistem hutan gambut di Kecamatan Kahayan Hilir, telah mendukung pengembangan usaha oleh Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS). Kelompok ini tersebar di masing-masing desa Gohong, Mantaren I, Kalawa, dan Buntoi. Salah satunya adalah dukungan pengembangan usaha KUPS Madu Kelulut.

“Dukungan KUPS Madu Kelulut dalam bentuk kegiatan peningkatan kapasitas dan pemberdayaan ekonomi seperti pemasaran madu, bantuan pengemasan dan peralatan pengemasan serta peralatan stuf madu” Ungkap Onasis Selaku KUPS Manager KPSHK. Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Madu Kelulut memiliki peluang besar untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya melalui pemasaran madu kelulut. Namun, tantangan utama adalah keterbatasan pengetahuan dan keterampilan dalam memasarkan produk tersebut. Oleh karena itu, pelatihan pemasaran menjadi sangat penting untuk membantu KUPS Madu Kelulut mengoptimalkan potensi madu kelulut.

Stup atau rumah lebah dibuat untuk memudahkan pemanenan produk pelebahan dan membuat lebah merasa aman dan nyaman di sarang lebah. Bahan yang digunakan adalah papan yang tidak berbau, bebas bahan kimia, memiliki kekuatan, keawetan, dan ketebalan yang baik. Ukurannya 25 x 30 cm atau ada juga 34 x 40 cm untuk tinggi 8 – 9 cm. Selama proses budidaya lebah Trigona spp, kegiatan perawatan stup harus dilakukan secara rutin minimal 4 x dalam 1 bulan, dengan memperhatikan corong masuknya lebah untuk melihat jika corong masih basah maka produksi madu masih bagus dan produktif. Berbanding terbalik jika corong sudah kering, maka madu sudah mulai tidak produktif atau koloni melemah. Pembersihan stup dan sekitarnya dari kotoran untuk menghindari pengganggu lebah datang, penyeprotan racun serangga agar menjaga lebah madu Trigona spp dari gangguan serangga lain seperti semut, laba – laba dan lainnya. Pemeliharaan koloni bisa dilakukan dengan menghindari sentuhan langsung dengan tangan. Lalu disimpan pada tempat naungan, dan penutupnya harus diganti paling tidak 1 tahun sekali.

Madu kelulut yang diproduksi oleh KUPS Madu Desa Buntoi dipanen minimal 1 bulan sekali dengan hasil panen tergantung cuaca dan melalui 3 tahap, yaitu pemanenan madu, pengurangan kadar air pada madu, dan pengemasan dengan botol kemasan yang baru. “Tahapan pemanenan madu kelulut di Desa Buntoi sedikit berbeda dengan di tempat lain. Salah satu tahap yang dilakukan dalam kegiatan budidaya madu di KUPS Madu yaitu tahap pengurangan kadar air pada madu. Sebelum dimasukkan ke dalam botol kemasan, akan dilakukan tahap pengurangan kadar air setelah madu dipanen dengan alat khusus. Tahap tersebut memerlukan proses sekitar 3-5 hari sehingga bisa menghasilkan madu dengan tekstur yang lebih kental. Makanya, harga yang ditentukan akan sedikit lebih mahal dari madu lainnya. Kami juga selalu memastikan bahwa penggunaan botol kemasan selalu yang baru.” ujar Yulius Triawan selaku Ketua KUPS Madu Desa Buntoi

Luas lahan yang digunakan untuk kegiatan ini yaitu seluas kurang lebih 1 hektar. Hasil panen yang biasa diperoleh yaitu sekitar 26 stup/kotak madu dengan takaran tiap stup mencapai 0,5-1 liter. Dalam produksinya, KUPS Madu Kelulut Buntoi selalu menggunakan botol kemasan baru untuk menghasilkan kualitas madu yang lebih baik. 

Pelatihan pemasaran bagi KUPS Madu Kelulut Buntoi adalah langkah strategis untuk mengoptimalkan potensi ekonomi dari madu kelulut dalam kerangka perhutanan sosial.

Madu kelulut dikenal dengan kandungan nutrisinya yang tinggi dan manfaatnya dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh, sehingga memiliki pasar yang potensial baik di tingkat lokal maupun internasional.

“Meningkatkan popularitas madu kelulut perlu strategi branding dan promosi produk madu kelulut, dengan teknik promosi secara offline maupun online” Ujar Syaifudin, Owner Madu Zahra Banjarmasin yang menjadi praktisi untuk melatih pemasaran madu kelulut Teknik promosi produk madu kelulut secara offline bisa dengan mengikuti pameran dan acara, melakukan demonstrasi produk, dan membuka gerai penjualan. Sedangkan Teknik promosi produk madu kelulut secara online dengan memanfaatkan E-Commerce, konten digital yang menarik, kolaborasi dengan influencer, dan iklan digital yang terpersonalisasi.

Menurut Syaifudin bahwa era digital saat ini, pemanfaatan media sosial menjadi sangat penting bagi pemasaran produk. Media sosial memungkinkan interaksi langsung dengan pelanggan, membangun brand awareness, dan meningkatkan penjualan secara efektif dan efisien.

Strategi branding produk madu kelulut yang efektif terdiri dari tiga komponen utama. Pertama, membangun identitas merek yang kuat melalui logo, kemasan, dan gaya visual yang mencerminkan kekhasan madu kelulut. Kedua, mengembangkan cerita merek yang inspiratif dan membangun koneksi emosional dengan pelanggan. Ketiga, mengomunikasikan secara efektif keunikan dan keunggulan produk madu kelulut dibandingkan dengan produk sejenis lainnya.

Pengetahuan dan keterampilan pemasaran yang memadai memungkinkan KUPS Madu Kelulut untuk meningkatkan kesehatan anggotanya, menghasilkan produk berkualitas tinggi, dan memperluas pasar. Inisiatif ini tidak hanya menghasilkan keuntungan finansial, tetapi juga membantu pelestarian hutan dan meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat yang tinggal di sekitar hutan.

Penulis: Alma Tiara

Editor: Joko W

https://www.klikdokter.com/

One type of bee product that you may rarely hear about is kelulut honey. Meliponin honey or stingless bee honey comes from the Trigona itama bee species. This type of honey has great potential to be developed for modern medicinal purposes.

Many beauty influencers and social media users promote the use of honey as part of their skin care routine. This has helped increase the popularity of honey as a natural ingredient in skin care.

Free radicals not only affect the body by causing various long-lasting diseases, but also cause skin aging, which will definitely disturb a person’s appearance, especially the face. Kelulut honey, which is a natural source of antioxidants, can help prevent skin aging by protecting the skin from free radicals. Therefore, the skin will look younger and more youthful.[1]

Currently, honey facial masks have become a natural skincare mask trend. Many people are turning to natural and organic products for their skin care, and honey is one safe and effective choice for a natural face mask.

Honey has many benefits, so it is not surprising that many teenagers and adults choose it for their skin care. The trend is likely to continue to grow along with increased awareness of the importance of natural ingredients in skin care.

The Indonesian Society for the Conservation of Natural Resources (KPSHK), through its integrated peatland ecosystem management program in Kahayan Hilir District, has supported business development by Social Forestry Business Groups (KUPS). These groups are spread across the villages of Gohong, Mantaren I, Kalawa, and Buntoi. One such support is the development of the Kelulut Honey KUPS business.

“The Kelulut Honey KUPS support takes the form of capacity building and economic empowerment activities, such as honey marketing, assistance with packaging and packaging equipment, and honey production equipment,” explained Onasis, KPSHK’s KUPS Manager. The Kelulut Honey Social Forestry Business Group (KUPS) has a significant opportunity to improve the welfare of its members through the marketing of kelulut honey. However, the main challenge is limited knowledge and skills in marketing the product. Therefore, marketing training is crucial to help the Kelulut Honey KUPS optimize the potential of kelulut honey.

Kelulut honey bee stup Trigona Spp. which is at KUPS Madu Buntoi. Photo Source: KPSHK.

 

Bee hives or bee houses are made to facilitate the harvesting of bee products and make the bees feel safe and comfortable in the hive. The material used is a board that is odorless, chemical-free, has good strength, durability, and thickness. The size is 25 x 30 cm or there is also 34 x 40 cm for a height of 8 – 9 cm. During the Trigona spp bee cultivation process, hive maintenance activities must be carried out routinely at least 4 times in 1 month, by paying attention to the bee entry funnel to see if the funnel is still wet then honey production is still good and productive. Conversely, if the funnel is dry, then the honey has begun to be unproductive or the colony is weakening. Cleaning the hive and its surroundings from dirt to avoid bee pests coming, spraying insect poison to protect Trigona spp honey bees from other insect disturbances such as ants, spiders and others. Colony maintenance can be done by avoiding direct contact with hands. Then stored in a shaded place, and the cover must be replaced at least once a year.

 

The appearance of the harvest of honey liquid from the KUPS Kelulut Buntoi honey colony. Photo Source: K.P.SHK

Kelulut honey produced by KUPS Madu Buntoi Village is harvested at least once a month, with yields depending on the weather and going through three stages: honey harvesting, water reduction, and packaging in new bottles. “The stages of harvesting kelulut honey in Buntoi Village are slightly different from those in other places. One of the stages carried out in honey cultivation activities at KUPS Madu is the water reduction stage. Before being bottled, the water reduction stage is carried out after the honey is harvested using special equipment. This stage requires a process of around 3-5 days, resulting in honey with a thicker texture. Therefore, the price is slightly higher than other honey. We also always ensure that the bottles used are always new,” said Yulius Triawan, Head of KUPS Madu Buntoi Village.

Kelulut Buntoi Honey KUPS in clean and hygienic packaging. Photo Source: K.P.SHK

 

The land used for this activity covers approximately 1 hectare. The typical harvest is approximately 26 honey hives/boxes, each hive weighing 0.5-1 liter. In its production, the Buntoi Kelulut Honey KUPS always uses new bottles to ensure better quality honey.

Marketing training for the Buntoi Kelulut Honey KUPS is a strategic step to optimize the economic potential of kelulut honey within the social forestry framework.

Kelulut honey is known for its high nutritional content and benefits in boosting the immune system, thus offering potential markets both locally and internationally.

“Increasing the popularity of kelulut honey requires a branding and promotion strategy, utilizing both offline and online promotional techniques,” said Syaifudin, Owner of Madu Zahra Banjarmasin, who trained in kelulut honey marketing. Offline promotional techniques for kelulut honey include participating in exhibitions and events, conducting product demonstrations, and opening sales outlets. Meanwhile, techniques for promoting Kelulut honey products online are by utilizing E-Commerce, interesting digital content, collaboration with influencers, and personalized digital advertising.

Special Promo Flyer for Buntoi Village Honey Products. Photo Source: K.P.SHK

According to Syaifudin, in today’s digital era, utilizing social media is crucial for product marketing. Social media allows direct interaction with customers, builds brand awareness, and increases sales effectively and efficiently.

An effective kelulut honey product branding strategy consists of three main components. First, building a strong brand identity through a logo, packaging, and visual style that reflects the uniqueness of kelulut honey. Second, developing an inspiring brand story and building an emotional connection with customers. Third, effectively communicating the uniqueness and superiority of kelulut honey products compared to other similar products.

Sufficient marketing knowledge and skills enable the Kelulut Honey Association (KUPS) to improve the health of its members, produce high-quality products, and expand its market. This initiative not only generates financial benefits but also helps conserve forests and improve the social welfare of communities living around the forests.

Author: Alma Tiara

Editor: Joko W

https://www.klikdokter.com/

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *