Sekilas, pohon Balangeran (Shorea balangeran) tampak seperti sedang berbunga merah. Warna merah di ujung ranting pohon Blangeran bukanlah bunga melainkan daun muda yang baru tumbuh. Perlahan daun-daun Balangeran akan menguning, dan akhirnya menghijau. Balangeran adalah anggota famili Dipterocarpaceae, keluarga besar pohon hutan hujan Asia Tenggara yang juga menaungi meranti, keruing, dan kapur.
Pada usia dua dekade, balangeran bisa tumbuh mencapai 20 hingga 25 meter, tegak lurus tanpa cabang pada belasan meter pertama, dengan diameter sekitar 50 cm. Kulit pohon dewasanya tampil dalam gradasi merah tua hingga hitam, tebal 1–3 cm, beralur dangkal, dan tidak mudah mengelupas. Jika dibelah, bagian terasnya berwarna cokelat kemerahan, sementara kayu gubal di luarnya berwarna putih kekuningan atau merah muda setebal 2–5 cm (Suryanto et al. 2012).

Balangeran di HD Gohong. Sumber foto: KPSHK.
“Kalau terlihat daun muda merah menyala di ujung ranting, itu hampir pasti balangeran,” ujar Hikia, Ketua Tim Penjaga Hutan Kalawa. “Pohon ini luar biasa kuat tahan terendam, bahkan bisa tumbuh kembali setelah terbakar.”
Sejumlah penelitian membuktikan ketangguhan itu. Tata & Pradjadinata (2016) mencatat, dari empat spesies lokal yang diuji pada lahan gambut terbakar yaitu Shorea balangeran, Dyera polyphylla, Calophyllum biflorum, dan Calophyllum inophyllum, Balangeran memiliki tingkat hidup dan pertumbuhan tertinggi dalam delapan bulan pertama.
Selain memiliki tinggi hingga 25 meter, akar-akar lebarnya seperti papan penyangga raksasa. “Kalau balangeran hilang, gambut akan rusak dan orangutan akan kehilangan rumahnya,” kata Adi, Tim Penjaga Hutan Kalawa. Sistem akarnya bekerja seperti spons, menyerap air hujan lalu melepaskannya perlahan ke dalam lapisan gambut mencegah kekeringan sekaligus mengurangi risiko kebakaran.
Peran balangeran tidak berhenti pada menjaga kebasahan hutan gambut. Bagi orangutan, Balangeran adalah rumah sekaligus dapur. Penelitian Husson et al. (2009) dalam International Journal of Primatology menyebutkan, orangutan kerap memilih balangeran sebagai pohon tidur karena cabangnya kuat dan tajuknya aman dari predator. Saat musim buah langka, daun mudanya menjadi sumber pangan cadangan.
Balangeran menjalankan dua fungsi; sebagai tanaman konservasi yang dapat memulihkan lahan, dan ruang hidup bagi orangutan (Suparjo et al. 2024) “Pohon itu seperti apartemen lengkap, ada tempat tidur dan dapurnya orangutan,” seloroh Hikia. Balangeran selain menyediakan pakan dan habitat satwa, balangeran juga berperan penting dalam penyimpanan air dan karbon. Kayunya yang padat menyimpan karbon dalam jumlah besar. Rachmat et al. (2023) mencatat bahwa penanaman Shorea balangeran, Dyera polyphylla, dan Tetramerista glabra dapat menyerap hingga 106 ribu ton COâ‚‚ ekuivalen dalam 20 tahun.
Smith et al. (2022) dalam Journal of Applied Ecology menyebut Balangeran sebagai spesies “hidup lambat, mati tua” tumbuh perlahan, tetapi bertahan hingga ratusan tahun sehingga sangat ideal untuk restorasi gambut. Usianya yang panjang memungkinkan penyimpanan karbon secara berkelanjutan, sementara kayu dan resin yang dihasilkannya memberi nilai ekonomi bagi masyarakat.sebagai pohon yang menjalankan dua fungsi; sebagai tanaman konservasi untuk menmulihkan lahan dan penjaga satwa.
At first glance, the Balangeran tree (Shorea balangeran) looks like it’s blooming red. The red color at the tips of the Blangeran tree’s branches isn’t the flowers, but rather the young leaves that have just sprouted. Gradually, the Balangeran’s leaves turn yellow and eventually green. Balangeran is a member of the Dipterocarpaceae family, a large family of Southeast Asian rainforest trees that also includes meranti, keruing, and kapur.
At two decades old, a Balangeran can grow to a height of 20 to 25 meters, standing upright without branches for the first few dozen meters, with a diameter of about 50 cm. The bark of mature trees ranges from dark red to black, is 1–3 cm thick, has shallow grooves, and doesn’t peel easily. When split, the heartwood is reddish brown, while the outer sapwood is yellowish-white or pink, 2–5 cm thick (Suryanto et al. 2012).

Balangeran in HD Gohong. Photo source: KPSHK.
“If you see bright red young leaves at the end of a branch, it’s almost certainly a balangeran,” said Hikia, Head of the Kalawa Forest Ranger Team. “This tree is incredibly strong and can withstand submersion, and can even regrow after being burned.”
Several studies have proven this resilience. Tata & Pradjadinata (2016) noted that of four local species tested on burned peatlands—Shorea balangeran, Dyera polyphylla, Calophyllum biflorum, and Calophyllum inophyllum—the balangeran had the highest survival and growth rates in the first eight months.
Besides growing up to 25 meters tall, its wide roots resemble giant support boards. “If the balangeran disappears, the peat will be damaged and orangutans will lose their homes,” said Adi, of the Kalawa Forest Ranger Team. Its root system acts like a sponge, absorbing rainwater and slowly releasing it into the peat layer, preventing drought and reducing the risk of fire.
The balangeran’s role goes beyond maintaining the peat forest’s moisture. For orangutans, the balangeran is both their home and their kitchen. Research by Husson et al. (2009) in the International Journal of Primatology states that orangutans often choose Balangeran as a sleeping tree because its branches are strong and its canopy is safe from predators. During the scarce fruit season, the young leaves serve as a backup food source.
Balangeran serves two functions: as a conservation plant that can restore the land, and as a living space for orangutans (Suparjo et al. 2024). “The tree is like a complete apartment; there’s a bedroom and a kitchen for the orangutan,” joked Hikia. Besides providing food and habitat for the animals, Balangeran also plays a vital role in water and carbon storage. Its dense wood stores large amounts of carbon. Rachmat et al. (2023) noted that planting Shorea Balangeran, Dyera polyphylla, and Tetramerista glabra can sequester up to 106,000 tons of COâ‚‚ equivalent in 20 years.
Smith et al. (2022) in the Journal of Applied Ecology called Balangeran a “slow-living, old-dying” species, growing slowly but surviving for hundreds of years, making it ideal for peat restoration. Its longevity allows for sustainable carbon storage, while the wood and resin it produces provide economic value to communities. It serves as a dual-purpose tree: a conservation tree for land restoration and a wildlife protector.
Add a Comment