Mengenali Hutan, Mencatat Kehidupan
Recognizing the Forest, Recording Life

Juara lomba Cerita Biodiversity, Siswanto TPH Mantaren I ( Juara 1), Heron TPH Gohong (Juara 2) dan Suhartono TPH Kalawa (Juara 3). Sumber foto. KPSHK.

 

Suara peserta silih berganti memenuhi ruang pelatihan Tim Penjaga Hutan (TPH) pada 12 Juni 2026. Di antara pembahasan tentang patroli, keselamatan kerja, hukum karhutla, dan biodiversitas, pengalaman lapangan menjadi bagian yang paling banyak memancing diskusi.

 

Peserta berasal dari TPH Gohong, Buntoi, Kalawa, dan Mantaren I. Mereka tidak hanya menerima materi, tetapi juga berbagi cerita tentang satwa yang pernah mereka temui saat berpatroli di hutan desa. Materi biodiversitas pun berubah menjadi ruang bertukar pengetahuan antaranggota tim patroli.

 

Suhartono, TPH Kalawa. Sumber foto: KPSHK.

 

Suhartono, TPH Kalawa mengingat kembali pertemuannya dengan orangutan di dalam kawasan hutan desa. “Saya pernah melihat orangutan yang sedang membawa anaknya. Jaraknya sekitar empat sampai lima meter dari tempat saya berada di hutan Kalawa,” ujar Suhartono.

 

Cerita itu muncul saat peserta membahas satwa yang masih dijumpai di wilayah kerja mereka. Pengalaman lapangan menjadi bahan diskusi mengenai pentingnya pencatatan dan pelaporan temuan satwa selama patroli.

 

Sumari, TPH Gohong. Sumber foto: KPSHK.

 

Sesi yang sama, Sumari, TPH Gohong juga berbagi pengetahuan mengenai beruang madu. Menurutnya, keberadaan satwa tersebut sering kali dapat diketahui sebelum terlihat secara langsung. “Kalau beruang madu ada di sekitar kita, biasanya bisa diketahui dari baunya,” kata Sumari.

 

Ia juga menjelaskan langkah yang biasa dilakukan ketika berhadapan dengan beruang madu di dalam hutan. “Kalau dikejar beruang madu, cari pohon yang kecil untuk dipanjat,” tambahnya.

 

Diskusi tentang beruang madu kemudian berkembang menjadi pembahasan mengenai keselamatan patroli dan cara mengurangi risiko saat berada di lapangan.

 

Selain mengenali satwa, peserta juga mempelajari prosedur yang harus dilakukan ketika menemukan flora atau fauna yang dilindungi. Tim patroli diarahkan untuk menjaga jarak, mendokumentasikan temuan, mencatat titik koordinat, dan memasukkan data tersebut ke dalam laporan patroli.

 

Materi biodiversitas menjadi bagian dari rangkaian pelatihan yang menghubungkan perlindungan hutan dengan pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Peserta mempelajari bahwa keberadaan satwa, tumbuhan, dan kondisi gambut merupakan bagian dari satu sistem yang saling berkaitan. Kebakaran tidak hanya berdampak pada manusia, tetapi juga pada habitat satwa dan keberlangsungan ekosistem.

 

Akhir sesi, suasana pelatihan berubah menjadi kuis interaktif. Peserta saling berebut menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan materi yang telah dipelajari sepanjang hari.

 

Siswanto, TPH Mantaren I. Sumber foto: KPSHK.

 

Siswanto, TPH Mantaren I menjadi salah satu peserta yang memperoleh nilai tertinggi dalam kegiatan tersebut. “Kuis seperti ini membuat kami mengingat kembali materi yang sudah disampaikan,” ujar Siswanto setelah sesi berakhir.

 

Pelatihan hari pertama ditutup dengan satu pesan yang terus diulang sepanjang kegiatan: patroli hutan bukan hanya soal menemukan titik api. Patroli juga berarti mengenali hutan, mencatat kehidupan yang ada di dalamnya, dan memastikan informasi dari lapangan dapat menjadi dasar perlindungan kawasan hutan desa.

 

Penulis: Alma

Editor: JW & Kiss

The winners of the Biodiversity Story Competition were Siswanto, TPH Mantaren I (1st place), Heron, TPH Gohong (2nd place), and Suhartono, TPH Kalawa (3rd place). Photo source: KPSHK.

 

The voices of participants filled the Forest Guard Team (TPH) training room on June 12, 2026. Among discussions on patrols, occupational safety, forest and land fire laws, and biodiversity, field experiences were the most stimulating.

 

Participants came from TPH Gohong, Buntoi, Kalawa, and Mantaren I. They not only received material but also shared stories about animals they had encountered while patrolling the village forest. The biodiversity topic transformed into a space for knowledge exchange among patrol team members.

 

Suhartono, TPH Kalawa. Photo source: KPSHK.

 

Suhartono, TPH Kalawa, recalls his encounter with an orangutan in the village forest area. “I once saw an orangutan carrying its young. It was about four to five meters from where I was in the Kalawa forest,” said Suhartono.

This story emerged as participants discussed animals still encountered in their work areas. Field experiences became the basis for a discussion about the importance of recording and reporting animal sightings during patrols.

 

Sumari, Gohong Forestry Task Force. Photo source: KPSHK.

 

In the same session, Sumari, Gohong Forestry Task Force, also shared knowledge about sun bears. According to her, the presence of these animals can often be detected before being directly seen. “If a sun bear is around, we can usually tell by its scent,” said Sumari.

She also explained the usual steps to take when encountering a sun bear in the forest. “If a sun bear is chasing you, find a small tree to climb,” she added.

 

The discussion about sun bears then evolved into a discussion about patrol safety and how to reduce risks in the field.

 

In addition to identifying animals, participants also learned the procedures to follow when encountering protected flora or fauna. Patrol teams were instructed to maintain distance, document findings, record coordinates, and include this data in patrol reports.

 

Biodiversity material was part of a series of training sessions linking forest protection with forest and land fire prevention. Participants learned that the existence of animals, plants, and peat conditions are part of an interconnected system. Fires impact not only humans but also animal habitats and the sustainability of the ecosystem.

 

At the end of the session, the training session transitioned into an interactive quiz. Participants competed to answer questions related to the material covered throughout the day.

 

Siswanto, TPH Mantaren I. Photo source: KPSHK.

 

Siswanto, TPH Mantaren I, was one of the participants with the highest score in the activity. “Quizzes like this help us to re-evaluate the material we’ve covered,” Siswanto said after the session.

The first day of training concluded with a message that was repeated throughout: forest patrols are not just about finding hotspots. Patrols also mean identifying the forest, recording the life within it, and ensuring that information from the field can serve as a basis for protecting village forest areas.

 

Writer: Alma

Editor: JW & Kiss

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *