Pagi di Kalimantan Tengah sering tampak biasa saja. Langit terlihat abu-abu tipis, udara lembap, dan aktivitas masyarakat berjalan seperti hari-hari lainnya. Namun pada musim tertentu, kondisi itu berubah. Kabut pekat mengurung, bukan hanya mengganggu pandangan, tetapi juga perlahan mengancam kesehatan manusia yang menghirupnya.
Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar fenomena yang muncul lalu menghilang. Gumpalan asap itu merupakan campuran partikel halus dan gas berbahaya yang bisa masuk ke tubuh tanpa disadari, bergerak bersama udara yang setiap hari dihirup. “Hal paling berbahaya bukan hanya asap yang terlihat, tetapi partikel halus yang tidak terlihat mata. Partikel itu bisa masuk sampai ke paru-paru, bahkan aliran darah,” ujar Prof. Bambang Hero Saharjo, Tenaga Ahli Kebakaran Hutan dan Lahan.
Dalam asap tersebut terkandung partikel sangat halus seperti PM2.5, karbon monoksida, gas beracun, serta debu mikroskopis. Ketika terhirup, partikel ini dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, mulai dari batuk, sesak napas, mata perih, sakit tenggorokan, pusing, hingga rasa lemas yang berkepanjangan. Dalam kondisi yang lebih serius, paparan berulang dapat memperburuk asma dan meningkatkan risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama pada anak-anak dan lansia yang memiliki daya tahan tubuh lebih rentan.

Api dan asap Karhutla membakar semak dilahan gambut. Sumber Foto: KPHSK,
Selain partikel utama, pembakaran lahan yang mengandung sisa aktivitas manusia juga berpotensi melepaskan partikel tambahan yang sangat kecil ke udara. Meski dampak jangka panjangnya masih terus diteliti, keberadaan partikel ini menambah lapisan risiko yang tidak bisa diabaikan dalam konteks kesehatan lingkungan.
Dampaknya tidak berhenti pada tubuh manusia saja. Saat kualitas udara menurun, kehidupan sehari-hari ikut terganggu. Sekolah dapat diliburkan, aktivitas luar ruangan dibatasi, jarak pandang menurun drastis, hingga transportasi darat maupun udara terganggu. Dalam situasi tertentu, kabut asap juga menekan aktivitas ekonomi masyarakat karena mobilitas menjadi terbatas dan kondisi kesehatan menurun.
Ketika kualitas udara memburuk, langkah perlindungan diri menjadi sangat penting. Penggunaan masker yang sesuai, pengurangan aktivitas luar ruangan, menjaga asupan air putih, menutup ventilasi saat asap pekat, serta memantau kualitas udara secara berkala dapat membantu mengurangi paparan langsung. Informasi kualitas udara dapat dipantau melalui lembaga resmi seperti BMKG maupun layanan pemantauan kualitas udara seperti IQAir.

Hutan Desa Kalawa. Sumber foto: KPSHK.
Karhutla kerap dipicu oleh pembukaan lahan dengan cara membakar yang dilakukan bersmaan dengan datangnya musim kemarau. Bahaya pembakaran lahan akan semakn besar jika dilakukan di areal gambut. Kerentanan lahan gambut yang kering mempercepat meluaskan titik api. Sekali api menyentuh lapisan gambut, ia tidak hanya membakar permukaan, tetapi juga merambat di bawah tanah dan menghasilkan asap pekat yang dapat bertahan lama serta menyebar jauh melewati batas wilayah.
Pencegahan tetap menjadi kunci utama. Tidak membakar lahan, menjaga kelembapan gambut, serta melaporkan titik api sejak dini menjadi langkah penting. Hal tersebut akan turut menentukan apakah asap akan menjadi gangguan sesaat atau berubah menjadi krisis kesehatan yang meluas. Seperti yang sering diingatkan dalam berbagai kajian kebakaran hutan, satu kejadian kecil dapat berkembang menjadi dampak besar ketika tidak ditangani sejak awal.
Penulis: Alma
Editor: JW & Kiss
Add a Comment