Pulang Pisau — Kepala api di kawasan Hantupa terus menjadi perhatian Tim Darurat Karhutla (TDK). Pergerakan api membuat personel harus bekerja dari beberapa titik sekaligus, mulai dari pemadaman, pemantauan, pengecekan sumber air, hingga pembasahan area yang berpotensi menjadi jalur rambatan.
Sedikitnya 37 personel Tim Darurat Karhutla (TDK) tercatat dalam pembagian tim yang bergerak di sejumlah lokasi. Jumlah tersebut berasal dari tim Mantaren 1, Kelawa, serta dukungan MPA Desa Gohong. Personel lainnya juga bergerak dalam operasi malam dan koordinasi penanganan di wilayah Buntoi serta Tahura.
Tim malam dari Garong dan Gohong melakukan pemadaman di kawasan Sei Hantupa. Pergerakan pada malam hari menjadi bagian penting dalam upaya mengejar bagian depan api sekaligus mengendalikan titik-titik yang masih berpotensi menyala.

Tim Darurat Karhutla berupaya memadamkan Karhutla di Gohong Sei Hantupa pada malam hari, 08/09/2026. Sumber foto. KPSHK.
Sementara itu, personel Mantaren 1 melakukan pengecekan sumber sumur bor dan pembasahan. Tim dari Kelawa juga dibagi untuk mendukung penanganan di Gohong serta melakukan pemantauan dan pembasahan di kawasan Handel Bengkalung.
Dukungan MPA Desa Gohong turut diperkuat untuk membantu pemadaman. Keterlibatan masyarakat melalui MPA menjadi bagian penting ketika kebutuhan personel di lapangan meningkat dan tim harus bekerja di beberapa lokasi secara bersamaan.
Pergerakan api di kawasan gambut membutuhkan strategi yang berbeda dengan penanganan kebakaran di lahan biasa. Salah satu pertimbangan TDK adalah tidak menggunakan sekat bakar di area gambut karena terdapat risiko api merambat melalui lapisan bawah permukaan.
Sebagai gantinya, tim memilih pendekatan pembersihan jalur dan pembasahan secara bersamaan.
Vegetasi yang berpotensi menjadi bahan bakar dibersihkan untuk mengurangi jalur rambatan. Setelah itu, area dibasahi agar kondisi lahan menjadi lebih lembap dan peluang api bergerak semakin jauh dapat ditekan.

Kondisi malam kebakaran di Sei Hantupa Gohong, 08/09/2026. Sumber foto: KPSHK.
Langkah tersebut dilakukan sambil terus memantau perkembangan api. Posisi kepala api menjadi perhatian karena pemadaman pada titik belakang belum cukup apabila bagian depan perambatan masih bergerak.
Karena itu, personel perlu terus menyesuaikan posisi dan prioritas berdasarkan kondisi aktual di lapangan.
Ketersediaan sumber air menjadi salah satu faktor penting dalam operasi pemadaman. Pipa sumur bor yang dibutuhkan untuk mendukung penanganan di Gohong telah didistribusikan, sementara peralatan sumur bor juga telah dibagikan kepada seluruh LPHD.
Peralatan lapangan seperti mesin, alat komunikasi, dan kotak P3K turut disiapkan untuk mendukung mobilisasi personel.
Koordinasi juga terus dilakukan untuk memperluas dukungan personel. TDK tengah mengupayakan keterlibatan MPA Garung dalam penanganan di kawasan Ulin dan Hantupa melalui koordinasi dengan pemerintah desa.
Penguatan personel menjadi penting karena kondisi lapangan tidak selalu memungkinkan satu tim bekerja di satu lokasi saja. Pembagian tugas diperlukan agar pemadaman, pemantauan, pembasahan, dan dukungan sumber air dapat berjalan secara bersamaan.
Pergerakan puluhan personel TDK menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan kerja yang terkoordinasi. Setiap tim memiliki fungsi berbeda, tetapi seluruhnya diarahkan pada tujuan yang sama: menghambat pergerakan api dan mencegahnya meluas ke area lain.
Di tengah medan gambut yang memiliki tantangan tersendiri, strategi juga tidak dapat dilakukan secara kaku. Kondisi api, arah rambatan, ketersediaan air, dan karakter lahan menjadi pertimbangan dalam menentukan langkah di lapangan.
Melalui Program Inisiatif Kahayan Hilir (IKH), TDK terus memperkuat respons penanganan dengan menggabungkan pengerahan personel, dukungan MPA, penguatan sumber air, serta strategi pemadaman yang menyesuaikan kondisi gambut.
Kepala api masih bergerak. Karena itu, TDK pun terus bergerak mengejar, membasahi, dan mengendalikan agar api tidak melangkah lebih jauh
Penulis: Alma
Add a Comment