DJI_0342.jpg

Ketika Hutan Menghilang

Perubahan bentang hutan terbaca melalui citra satelit dan peta digital. Warna hijau berkurang, lalu berubah menjadi area terbuka. Alur sungai bergeser mengikuti perubahan tutupan lahan. Titik panas muncul saat musim kemarau. Pola perubahan terlihat berulang dari tahun ke tahun.

Bayu Saputro, GIS & Database Manager (GDM) KPSHK, memantau kondisi itu melalui data spasial setiap hari. Hutan tercatat bukan hanya sebagai peta, tetapi sebagai rangkaian perubahan tutupan lahan. “Hutan itu rumah bagi banyak makhluk hidup. Ketika hutan hilang, satwa kehilangan ruang hidup lebih dulu. Setelah itu manusia ikut menerima dampaknya,” kata Bayu Saputro.

Indonesia masih menghadapi tekanan deforestasi. Laporan Status Deforestasi Indonesia 2025 dari Auriga Nusantara mencatat luas deforestasi Indonesia mencapai 433.751 hektare pada 2025. Angka tersebut naik 66 persen dibanding tahun sebelumnya.

Kalimantan, Sumatera, dan Papua mengalami tekanan paling besar. Pembukaan lahan untuk perkebunan, tambang, dan pembangunan menjadi penyebab utama hilangnya tutupan hutan. Catatan Hutan Itu Indonesia tahun 2025 menunjukkan pola yang sama.

Perubahan tutupan hutan tidak berhenti pada hilangnya pohon. Data lingkungan menunjukkan dampak ikut mengikuti perubahan tersebut. Suhu meningkat pada beberapa wilayah. Banjir terjadi lebih sering. Asap kebakaran meluas saat musim kering. Sumber air berubah.

Alfian MA, staf GIS KPSHK, menjelaskan perubahan itu terbaca melalui pemetaan spasial. “Kalau tutupan hutan berkurang, perubahan lain ikut terlihat. Sungai lebih keruh, area terbuka bertambah, dan risiko kebakaran meningkat,” ujar Alfian MA.

Data Global Forest Watch mencatat kebakaran sebagai salah satu penyebab utama kehilangan hutan tropis dalam beberapa tahun terakhir. Kehilangan hutan hujan tropis global pada 2024 mencapai titik tertinggi akibat kebakaran dan perubahan penggunaan lahan.

Hutan Indonesia menyimpan banyak spesies. Kawasan ini menjadi habitat orangutan, rusa sambar, burung enggang, dan tumbuhan gambut. Ketika hutan terbuka, rantai hidup satwa terputus.

Sebagian satwa masuk ke kebun dan permukiman. Sebagian kehilangan sumber makan. Sebagian tidak tercatat dalam pemantauan. “Hilangnya satu kawasan hutan bisa memutus jalur hidup satwa. Banyak satwa membutuhkan area luas untuk mencari makan dan berkembang biak,” kata Bayu.

Data lapangan menunjukkan dampak lanjutan pada ekosistem gambut. Gambut yang mengering memiliki risiko terbakar lebih tinggi. Api menyebar tidak hanya di permukaan, tetapi juga di lapisan bawah tanah.

Asap kebakaran gambut tercatat menyebabkan sekolah tutup, penerbangan terganggu, dan peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan.

Data deforestasi dan kebakaran menunjukkan pola yang sama: perubahan tutupan hutan diikuti perubahan pada manusia dan lingkungan.

Manusia menghadapi risiko kehilangan sumber air bersih, udara sehat, dan perlindungan alami terhadap perubahan iklim. Data bencana menunjukkan keterkaitan antara hilangnya hutan dan meningkatnya banjir, kekeringan, serta gangguan kesehatan.

Alfian menyampaikan teknologi pemantauan sudah mampu membaca perubahan lebih cepat. “Citra satelit, drone, dan sistem pemetaan bisa menunjukkan lokasi pembukaan lahan hingga titik rawan kebakaran. Tapi data saja tidak cukup. Hal paling penting adalah bagaimana data dipakai untuk menjaga kawasan hutan,” katanya.

Upaya perlindungan hutan berjalan melalui Program Inisiatif Kahayan Hilir (IKH) yang dijalankan KPSHK di Pulang Pisau.

Program ini memakai patroli rutin oleh tim penjaga hutan di empat hutan desa. Data lapangan dipakai untuk memantau kondisi kawasan, mendeteksi potensi kebakaran, serta mengawasi pembukaan lahan.

Intervensi dilakukan melalui pembangunan delapan menara pantau, 20 sumur Tinggi Muka Air Tanah (TMAT), 1 TMAT Reference, 58 sekat kanal, 3 pos jaga, 15 pondok penanaman, 64 papan himbauan, dan 12 kolam subsiden. Infrastruktur ini dipakai untuk pengaturan air dan pencegahan kebakaran.

Pendekatan ini menunjukkan perlindungan hutan tidak hanya berbicara tentang pembatasan pembukaan lahan, tetapi juga pengelolaan data, air, dan lanskap.

Data deforestasi, pemantauan satelit, dan kerja lapangan menunjukkan satu hal: perubahan hutan meninggalkan jejak.

Pertanyaan itu tetap terbuka. Kalau hutan hilang, siapa yang pertama kehilangan ruang hidup?

Penulis: Alma

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *