WhatsApp-Image-2026-05-20-at-13.40.07-3.jpeg

Orangutan Kehilangan Rumah, Kita Kehilangan Apa?

Tim Penjaga Hutan (TPH) Mantaren I menyusuri jalur patroli di kawasan gambut Hutan Desa Mantaren I, Kecamatan Kahayan Hilir. Jalur yang dilalui berada di antara petak vegetasi yang masih tersisa. Tanah gambut di beberapa titik menunjukkan kondisi basah, sementara di titik lain lebih kering, mengikuti musim dan riwayat air di kawasan.

Sepanjang jalur, tim melakukan pengamatan jejak satwa dan sarang orangutan. Catatan masyarakat dan tim menunjukkan perubahan pola keberadaan orangutan di sekitar kawasan hutan desa.

Ganti, anggota TPH Mantaren I, menuturkan kondisi sebelum perubahan besar pada tutupan hutan terjadi. “Sebelum kebakaran tahun 2015, orangutan masih sering terlihat di sekitar bibir handil, dekat kebun masyarakat yang berbatasan dengan hutan produksi. Tutupan pohon masih menyambung, jadi mereka bisa bergerak dekat dengan kami,” ujar Ganti, TPH Mantaren I.

Kondisi tersebut berubah setelah kebakaran hutan dan lahan yang terjadi pada tahun 2015. Perubahan kembali tercatat pada periode kebakaran lain pada tahun 2019 dan 2023. Sebagian area gambut mengalami pembakaran permukaan dan kehilangan tutupan vegetasi pada beberapa titik. Pada periode tersebut juga terjadi peningkatan asap yang berdampak pada kualitas udara di wilayah sekitar serta aktivitas masyarakat.

Setelah perubahan tersebut, pada tahun 2022 saat program Inisiatif Kahayan Hilir (IKH) berjalan dan TPH mulai aktif melakukan patroli rutin, pola temuan di lapangan berubah.

Ganti menyampaikan perubahan yang mereka catat dalam patroli. “Sekarang saat kami patroli, yang lebih sering kami temukan adalah sarangnya saja. Orangutannya sendiri jarang terlihat langsung. Sarangnya masih ada kami menemukan 2-4 hari sekali,” kata Ganti.

Hutan Desa Mantaren I merupakan bagian dari lanskap pergerakan orangutan yang bergantung pada konektivitas pohon sebagai jalur mobilitas dan sumber pakan. Ketika kebakaran terjadi berulang dan tutupan hutan terputus, pola pergerakan satwa ikut berubah dan cenderung menjauh dari area yang lebih terbuka.

Dr. Penyang S. Hut, MP., Tenaga Ahli Biodiversity KPSHK menjelaskan hubungan antara perubahan habitat dan pergerakan satwa. “Orangutan bergerak mengikuti ketersediaan pakan dan konektivitas pohon. Ketika terjadi kebakaran dan fragmentasi berulang, mereka lebih banyak berpindah di dalam blok hutan yang masih tersisa,” kata Dr. Penyang S. Hut, MP.

Abdul Azis dari PRM KPSHK melihat perubahan ini sebagai bagian dari perubahan hubungan manusia dengan hutan. “Perubahan hutan berdampak pada satwa dan manusia. Ada ruang yang hilang, ada interaksi yang berubah, dan ada jarak yang semakin jauh antara manusia dan satwa,” kata Abdul Azis, PRM KPSHK.

Perubahan habitat di Hutan Desa Mantaren I tercatat melalui berkurangnya pertemuan langsung dengan orangutan, perubahan lokasi temuan sarang, serta perubahan jalur pergerakan satwa di dalam kawasan gambut.

Upaya pemantauan dilakukan melalui patroli rutin oleh TPH, pencatatan sarang, serta pengamatan kondisi vegetasi sebagai bagian dari pengelolaan kawasan berbasis masyarakat.

Akhir patroli, tim berhenti di batas jalur gambut. Catatan lapangan ditutup, sementara hutan tetap bergerak di dalam kawasan.

Penulis: Alma

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *