Kalawa merupakan kelurahan di Kecamatan Kahayan Hilir, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Permukiman warga berada di sepanjang tepi Sungai Kahayan Hilir. Dari titik ini, hutan Desa Kalawa menjadi bagian dari bentang alam yang terhubung langsung dengan kehidupan masyarakat.
Perjalanan menuju kawasan hutan dimulai dari aliran sungai, lalu masuk ke handil atau jalur air yang membelah gambut. Air berwarna gelap seperti teh pekat mengalir pelan. Warna tersebut muncul dari proses pelapukan bahan organik yang berlangsung lama di dalam tanah gambut.
Kawasan hutan berada pada ekosistem gambut yang terbentuk dari penumpukan sisa tumbuhan dalam waktu sangat panjang. Saat melangkah masuk, permukaan tanah tidak terasa padat seperti tanah mineral. Teksturnya lunak, berlapis serasah daun, dan pada beberapa titik memperlihatkan air yang naik ke permukaan.
Jalur menuju hutan desa memperlihatkan vegetasi khas gambut. Pohon galam tumbuh pada area terbuka, sementara tumih, garonggang, blangiran muncul pada bagian yang lebih stabil. Akar-akar pohon saling terhubung dan menjaga lapisan tanah tetap menyatu dalam kondisi basah.
Kondisi tersebut membuat gambut mampu menyimpan air dalam jumlah besar, menjaga kelembapan tanah, dan menjadi ruang tumbuh berbagai jenis vegetasi lahan basah.
Hutan Desa Kalawa menjadi ruang hidup bagi berbagai satwa dan tumbuhan. Orangutan, rusa, dan berbagai jenis burung memanfaatkan kawasan ini. Anggrek tumbuh pada batang pohon, sementara kantong semar ditemukan di lantai hutan yang basah.
Bandi, Ketua LPHD Kalawa, menegaskan keterkaitan hutan gambut dengan kehidupan warga. “Kalau hutan gambut ini rusak, yang terdampak bukan hanya satu jenis makhluk hidup. Banyak yang bergantung di sini, termasuk kami yang tinggal di sekitar,” kata Bandi.
Air, akar, dan lapisan gambut bekerja dalam satu sistem. Akar pohon menahan struktur tanah, sementara lapisan gambut menyimpan air dan menjaga aliran tetap stabil di sekitar kawasan.
Tim Penjaga Hutan (TPH) Kalawa melakukan patroli dengan menyusuri jalur lembap dan memantau kondisi vegetasi serta tanda gangguan. Aktivitas ini menjadi bagian dari upaya menjaga ruang hidup di dalam ekosistem gambut.
Hikia, TPH Kalawa, menggambarkan kondisi yang mereka temui di lapangan. “Setiap patroli kami melihat jejak satwa. Ada yang kecil, ada yang besar. Misalnya kami menemukan jejak kaki rusa. Itu menunjukkan hutan ini masih menjadi tempat hidup mereka,” ujar Hikia.
Burung dan orangutan menggunakan tajuk pohon untuk bersarang. Reptil berada di sekitar genangan air. Serangga hidup pada serasah daun. Seluruhnya berada dalam hubungan yang saling terhubung.
Selain fungsi ekologis, kawasan ini juga menjadi ruang pembelajaran bagi masyarakat. Mengenal jenis pohon, jejak satwa, dan aliran air melalui kegiatan lapangan bersama TPH.
Hutan gambut di Kalawa memperlihatkan keterkaitan antara air, tanah, tumbuhan, dan satwa dalam satu sistem kehidupan yang saling menjaga keberlangsungan ruang hidup.
Penulis: Alma

Add a Comment