Permukaan tanahnya tampak lembek, gelap, dan sering dianggap tidak produktif. Banyak yang melihatnya sebagai lahan “tidak terpakai”. Padahal, di balik kesan sederhana itu, tersimpan peran besar yang jarang disadari: gambut adalah salah satu penyimpan karbon terbesar di planet ini.
Gambut terbentuk dari tumpukan sisa-sisa tumbuhan yang tidak sepenuhnya terurai selama ribuan tahun. Kondisi jenuh air membuat proses dekomposisi berjalan sangat lambat. Akibatnya, karbon yang seharusnya lepas ke atmosfer justru terperangkap dan terkunci di dalam tanah.
Fenomena ini menjadikan gambut sebagai salah satu ekosistem paling penting dalam menjaga keseimbangan iklim global.
Dr. Ir. Teddy Rusolono, MS, tenaga ahli KPSHK menjelaskan bahwa kemampuan gambut menyimpan karbon jauh melampaui hutan mineral biasa. “Gambut itu seperti brankas karbon. Selama tetap basah dan tidak terganggu, karbon akan aman tersimpan. Masalah muncul ketika gambut dikeringkan,” ujarnya.

Kawasan Gambut di Hutan Desa Mantaren I. Sumber foto: KPSHK.
Pernyataan tersebut bukan tanpa dasar. Lapisan gambut bisa mencapai kedalaman beberapa meter, bahkan hingga lebih dari 10 meter di beberapa wilayah Indonesia. Setiap meter kubik gambut menyimpan karbon dalam jumlah besar, hasil akumulasi selama ribuan tahun.
Perbandingan sederhana menunjukkan betapa luar biasanya fungsi ini. Hutan gambut mampu menyimpan karbon hingga beberapa kali lipat dibandingkan hutan di tanah mineral. Artinya, kerusakan kecil saja bisa berdampak besar terhadap emisi gas rumah kaca.
Ketika gambut dikeringkan baik untuk perkebunan, pertanian, atau Pembangunan lapisan yang tadinya jenuh air mulai terpapar oksigen. Proses ini memicu oksidasi yang melepaskan karbon ke atmosfer dalam bentuk karbon dioksida. Dalam kondisi ekstrem, gambut kering juga sangat rentan terbakar.
Kebakaran gambut bukan sekadar api biasa. Api merambat di bawah permukaan, sulit dipadamkan, dan dapat berlangsung berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Asap yang dihasilkan mengandung emisi karbon dalam jumlah besar sekaligus berdampak buruk bagi kesehatan manusia.
Kondisi tersebut membuat perlindungan gambut menjadi isu yang tidak bisa ditunda. Upaya restorasi pun mulai banyak dilakukan, mulai dari pembasahan kembali (rewetting), penanaman vegetasi asli, hingga pengelolaan berbasis masyarakat.
Pendekatan ini tidak hanya bertujuan menjaga lingkungan, tetapi juga memastikan keberlanjutan kehidupan masyarakat yang bergantung pada ekosistem gambut.
Kesadaran tentang pentingnya gambut perlahan mulai meningkat. Narasi bahwa gambut adalah “lahan kosong” kini bergeser menjadi “aset ekologis bernilai tinggi”. Perubahan cara pandang ini menjadi kunci dalam menjaga fungsi gambut sebagai penyimpan karbon alami.
Gambut bukan sekadar tanah basah. Ekosistem ini adalah benteng terakhir dalam menahan laju perubahan iklim diam, tersembunyi, namun menyimpan peran yang sangat besar bagi masa depan bumi.
Penulis: Alma
Editor: JW & Kiss
The surface of the soil appears soft, dark, and is often considered unproductive. Many see it as “unused” land. However, behind this simple appearance lies a significant role that is rarely recognized: peat is one of the largest carbon stores on the planet.
Peat is formed from the accumulation of plant remains that have not fully decomposed over thousands of years. Saturated conditions make the decomposition process very slow. As a result, carbon that should be released into the atmosphere is instead trapped and locked in the soil.
This phenomenon makes peat one of the most important ecosystems in maintaining global climate balance.
Dr. Ir. Teddy Rusolono, MS, an expert from the Ministry of Forestry and Forestry (KPSHK), explained that peat’s ability to store carbon far exceeds that of ordinary mineral forests. “Peat is like a carbon vault. As long as it remains wet and undisturbed, the carbon will be safely stored. Problems arise when the peat is drained,” he said.

Peat Area in the Mantaren I Village Forest. Photo source: KPSHK.
This statement is not without basis. Peat layers can reach depths of several meters, even exceeding 10 meters in some areas of Indonesia. Each cubic meter of peat stores a vast amount of carbon, accumulated over thousands of years.
A simple comparison shows how extraordinary this function is. Peat forests can store several times more carbon than forests on mineral soil. This means that even minor damage can have a significant impact on greenhouse gas emissions.
When peat is drained for plantations, agriculture, or development, the previously water-saturated layer becomes exposed to oxygen. This process triggers oxidation, releasing carbon into the atmosphere in the form of carbon dioxide. Under extreme conditions, dried peat is also highly susceptible to fire.
Peat fires are more than just ordinary fires. They spread beneath the surface, are difficult to extinguish, and can last for days or even weeks. The resulting smoke contains large amounts of carbon emissions and has negative impacts on human health.
These conditions make peat protection an urgent issue. Many restoration efforts have begun, ranging from rewetting, planting native vegetation, to community-based management.
This approach aims not only to protect the environment but also to ensure the sustainability of the lives of communities that depend on peat ecosystems.
Awareness of the importance of peat is slowly increasing. The narrative that peat is “wasteland” has now shifted to “a high-value ecological asset.” This shift in perspective is key to maintaining peat’s function as a natural carbon store.
Peat is more than just wetlands. This ecosystem is the last bastion against climate change. It’s silent and hidden, yet holds a crucial role for the future of the earth.
Author: Alma
Editor: JW & Kiss
Add a Comment