Harmoni Alam dalam Mangariau
Natural Harmony in Mangariau

Kabut pagi masih menggantung ketika Tim Penjaga Hutan (TPH) Kalawa berhenti di tepi hutan. Suara burung bersahut-sahutan dari balik rimbun pepohonan. Langkah kaki tidak langsung masuk ke area kerja. Ada satu hal penting yang dilakukan lebih dulu: Mangariau.

 

Dalam Bahasa Dayak Ngaju, sebagaimana dimaknai oleh masyarakat Kalawa, Mangariau berarti meminta izin. Istilah ini merujuk pada permohonan restu kepada penjaga alam sebelum seseorang memasuki hutan atau memulai pekerjaan. Penting dipahami, makna ini berbeda dengan dalam Bahasa Banjar. Dalam Bahasa Banjar, mangariau berarti memanggil atau menyeru. Perbedaan pengertian ini perlu ditegaskan agar tidak terjadi kekeliruan pemahaman.

 

Deli, Mantir Adat Kelurahan Kalawa. Sumber foto: KPSHK.

 

Mangariau adalah ritual yang dilakukan sebelum memasuki hutan, kebun, atau wilayah yang diyakini memiliki penjaga. Tradisi ini bukan sekadar seremoni adat. Ia merupakan wujud etika dan kesadaran bahwa manusia bukan satu-satunya penghuni ruang hidup.

 

Mantir adat Kalawa, Deli, menjelaskan maknanya dengan sederhana. “Mangariau itu cara kami meminta izin. Hutan bukan ruang kosong. Ada penjaganya, ada pemilik hewan di sana. Kami datang untuk bekerja, jadi harus permisi,” ujarnya.

 

Ritual dilakukan secara sederhana namun penuh makna. Berbagai bahan disiapkan sebagai persembahan: beras ketan, lauk seperti ayam kampung, telur, kue tradisional. Setiap unsur memiliki simbol. Telur melambangkan kehidupan. Beras menjadi simbol rezeki dan keberlanjutan. Hidangan yang disusun bersama mencerminkan kebersamaan dan rasa syukur.

 

Semua persembahan itu diletakkan dalam kelangkang, wadah anyaman bambu yang dibentuk menyerupai menara atau rak bertingkat. Tingginya kurang lebih 1,5 meter. Anyaman bambu disusun vertikal dan diperkuat penyangga agar kokoh berdiri di tanah atau di antara semak hutan. Di bagian tengah hingga atas terdapat ruang terbuka seperti panggung kecil tempat makanan dan perlengkapan adat ditata rapi. Kelangkang bentuknya seperti rak bambu tinggi yang dirancang khusus sebagai tempat sesajen sebelum doa dipanjatkan.

 

Gambar ilustrasi persembahan untuk ritual Mangariau.

 

Setelah semua tersusun, kelengkapan ritual dibawa ke titik tertentu di lokasi yang akan dimasuki. Mantir adat memimpin doa. Suasana menjadi hening. Setiap orang menundukkan kepala sebagai tanda hormat dan kesadaran.

 

Bagi masyarakat, Mangariau bukan sekadar simbol spiritual. Mangariau juga berfungsi sebagai pengingat kolektif. Sebelum bekerja, semua orang berhenti sejenak. Ada momen refleksi. Ada komitmen bersama untuk tidak sembarangan, tidak serakah, dan tidak merusak.

 

Di tengah perubahan zaman dan modernisasi alat kerja, prinsip meminta izin tetap dijaga. Mangariau menjadi jembatan antara manusia dan alam. Harmoni tercipta ketika manusia menyadari posisinya sebagai bagian kecil dari ekosistem yang lebih besar.

 

Melalui Mangariau, masyarakat menegaskan bahwa setiap langkah di hutan memiliki batas. Sikap hormat melahirkan tanggung jawab. Dari tanggung jawab itulah, kelestarian hutan dijaga bukan hanya sebagai sumber kehidupan, tetapi sebagai ruang bersama yang harus dihormati. 

 Penulis: Alama
Editor: JW & Kiss


The morning mist still hung when the Kalawa Forest Ranger Team (TPH) stopped at the edge of the forest. Birds chirped from behind the dense trees. Their footsteps didn’t immediately enter the work area. There was one important thing to do first: Mangariau.

 

In the Ngaju Dayak language, as interpreted by the Kalawa people, Mangariau means to ask permission. This term refers to requesting the blessing of the guardians of nature before one enters the forest or begins work. It’s important to understand that this meaning differs from the Banjar language. In Banjar, mangariau means to call or summon. This difference in meaning needs to be clarified to avoid misunderstandings.

 

Deli, Mantir Adat, Kalawa Village. Photo source: KPSHK.

 

Mangariau is a ritual performed before entering a forest, garden, or area believed to have guardians. This tradition is not merely a traditional ceremony. It embodies ethics and the awareness that humans are not the sole inhabitants of this living space.

 

The Kalawa traditional leader, Deli, explained its meaning simply. “Mangariau is our way of asking permission. The forest is not an empty space. There are guards, there are animal owners there. We came to work, so we have to excuse ourselves,” he said.

 

The ritual is carried out simply but full of meaning.Various ingredients are prepared as offerings: sticky rice, side dishes such as free-range chicken, eggs, traditional cakes. Each element has a symbol. Eggs symbolize life. Rice is a symbol of sustenance and sustainability. Meals prepared together reflect togetherness and gratitude.

 

All the offerings are placed in kelangkang, a woven bamboo container shaped like a tower or tiered shelf. Height is approximately 1.5 meters. The woven bamboo is arranged vertically and reinforced with supports so that it stands firmly on the ground or among forest bushes. In the middle to the top there is an open space like a small stage where food and traditional equipment are neatly arranged. Kelangkang is shaped like a tall bamboo shelf specifically designed as a place for offerings before prayers are said.

 

Illustration of offerings for the Mangariau ritual.

 

After everything is arranged, the ritual equipment is brought to a certain point at the location to be entered.The traditional mantir leads the prayer. The atmosphere became silent. Everyone bows their heads as a sign of respect and awareness.

 

For the community, Mangariau is more than just a spiritual symbol. It also serves as a collective reminder. Before working, everyone pauses. There’s a moment of reflection. There’s a shared commitment to not be careless, greedy, and destructive.

 

Amidst changing times and the modernization of work tools, the principle of asking for permission remains intact. Mangariau serves as a bridge between humans and nature. Harmony is created when humans recognize their place as a small part of a larger ecosystem.

 

Through Mangariau, the community emphasizes that every step in the forest has a limit. Respect breeds responsibility. From this responsibility, the forest is preserved not only as a source of life, but as a shared space that must be respected.

Writer: Alama
Editor: JW & Kiss

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *